Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Puisi Edy Sukardi: Menjaga Tradisi di Tengah Arus Modernisasi
Inshot 20251113 111107459

Puisi Edy Sukardi: Menjaga Tradisi di Tengah Arus Modernisasi

Img 20251115 011924

Puisi Edy Sukardi tentang Pasar Terapung Lok Baintan bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan refleksi sosial yang menghidupkan kembali tradisi berpantun sebagai medium ekonomi, budaya, dan kebersamaan.

Puisi “Merayu dengan Pantun” karya Edy Sukardi menghadirkan suasana khas Pasar Terapung Lok Baintan, Martapura, di mana ibu-ibu pedagang mendayung perahu sambil menawarkan dagangan dengan pantun. Ada beberapa hal penting yang bisa ditarik :

  • Pantun sebagai alat ekonomi rakyat
    Pedagang tidak sekadar menjual makanan atau buah-buahan, tetapi menggunakan pantun untuk merayu pembeli. Ini menunjukkan bahwa bahasa tradisi masih relevan sebagai strategi komunikasi ekonomi. Pantun menjadi “branding” lokal yang membedakan pasar tradisional dari pasar modern.
  • Kebersamaan dan kegembiraan
    Puisi menggambarkan suasana pagi yang penuh tawa, di mana transaksi ekonomi bukan sekadar jual beli, melainkan interaksi sosial yang hangat. Hal ini menegaskan bahwa pasar tradisional adalah ruang perjumpaan budaya, bukan sekadar ruang transaksi.
  • Pelestarian tradisi di tengah modernisasi
    Dengan menuliskan pengalaman ini, Edy Sukardi seakan mengingatkan bahwa modernisasi tidak boleh menghapus tradisi lokal. Pasar terapung dan pantun adalah warisan budaya yang perlu dijaga agar tidak hilang ditelan arus komersialisasi.
  • Dimensi spiritual dan etika berbagi
    Pantun yang dilantunkan pedagang sering menyelipkan pesan moral: jangan takut bersedekah, rezeki akan bertambah. Ini menunjukkan bahwa ekonomi rakyat diwarnai oleh nilai religius dan etika sosial, bukan sekadar keuntungan.

Puisi ini mengajarkan bahwa ekonomi rakyat tidak bisa dipisahkan dari budaya dan nilai-nilai lokal. Pasar terapung bukan hanya tempat jual beli, tetapi juga panggung sastra rakyat, di mana pantun menjadi media komunikasi, persuasi, bahkan doa.

Sebagai sastrawan sekaligus akademisi, Edy Sukardi berhasil mengangkat peristiwa sederhana menjadi karya sastra yang sarat makna. Ia menegaskan bahwa literasi budaya harus hadir di ruang publik, agar masyarakat tidak kehilangan akar tradisi di tengah arus globalisas

Menurut saya, Puisi Edy Sukardi adalah seruan halus untuk merawat tradisi. Pantun di pasar terapung adalah simbol bahwa ekonomi rakyat bisa berjalan beriringan dengan budaya, etika, dan kebersamaan. Jika kita mampu menjaga ruang-ruang seperti ini, maka pembangunan tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga tentang jiwa masyarakat.

Identitas Karya

  • Judul Puisi: Merayu dengan Pantun
  • Pengarang: Edy Sukardi
  • Tema: Tradisi pasar terapung Lok Baintan, Martapura
  • Bentuk: Puisi naratif dengan nuansa etnografis

Isi dan Ringkasan

Puisi ini menggambarkan suasana pasar terapung di Lok Baintan, di mana pedagang perempuan mendayung perahu sambil menawarkan dagangan dengan pantun. Pantun bukan sekadar alat komunikasi, tetapi menjadi seni persuasi yang menghidupkan interaksi jual beli.

Suasana pasar digambarkan penuh tawa, kehangatan, dan nilai religius: berdagang sambil mengingatkan pentingnya berbagi dan bersedekah.

Keunggulan

  • Kekuatan budaya: Puisi berhasil mengangkat tradisi lokal yang unik, yakni pantun sebagai media ekonomi rakyat.
  • Nuansa sosial: Menggambarkan pasar bukan hanya sebagai ruang transaksi, tetapi juga ruang kebersamaan dan etika.
  • Bahasa sederhana namun hidup: Edy Sukardi menggunakan diksi yang mudah dipahami, sehingga pesan budaya tersampaikan dengan jelas.
  • Nilai moral: Ada pesan spiritual tentang rezeki, berbagi, dan kejujuran dalam berdagang.

Relevansi

Puisi ini relevan sebagai pengingat bahwa modernisasi tidak boleh menghapus tradisi. Pasar terapung dan pantun adalah warisan budaya yang perlu dijaga. Karya ini juga bisa menjadi bahan literasi budaya di sekolah, media, maupun ruang publik, agar generasi muda mengenal kekayaan tradisi lokal.

Kesimpulan

Puisi Edy Sukardi adalah sastra rakyat yang hidup, mengangkat tradisi pantun di pasar terapung sebagai simbol ekonomi berjiwa budaya. Ia menegaskan bahwa pembangunan harus beriringan dengan pelestarian tradisi, agar masyarakat tidak kehilangan akar budaya di tengah arus globalisasi.

Editor : Akhlanudin

Fb img 1759155898740
Fb img 1759155988254

Artikel Terkait

InShot 20260421

Puisi-puisi Edy Sukardi

Kenali siapa dirimu Kau tak pernahhidup…

InShot 20260418

Bandara Hanandjoeddin Siap Sambut Scoot

Intisari Berita Tanjung pandan Belitung -Bandara…

InShot 20260418

Dishub Belitung Siapkan Tiga Kantong…

Intisari Berita Tanjung pandan Belitung –…