
Puisi Arrahman menghadirkan sebuah renungan tentang kasih sayang Tuhan yang tak terbatas. Penyair menggambarkan bagaimana Tuhan mencipta manusia, melengkapi dengan akal dan hati, serta mengajarkan bahasa sebagai sarana komunikasi dan peradaban.
Bahasa yang awalnya satu berkembang menjadi beragam sesuai kebutuhan manusia untuk berinteraksi, berkreasi, dan saling mempengaruhi.
Selain itu, puisi ini menekankan bahwa ilmu pengetahuan dan panduan hidup berasal dari pengajaran Ilahi, sebagaimana kisah Adam yang diajarkan nama-nama benda.
Akal memberi kemampuan bernalar, sementara hati menumbuhkan empati, sehingga manusia dapat hidup seimbang.
Bagian akhir puisi mengajak pembaca untuk merenungkan alam ciptaan Tuhan yang penuh keseimbangan.
Dengan ajakan “lihat, dengar, dan renungkan,” penyair menutup dengan gema ayat Qur’ani: “Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan.”
Secara umum, narasi puisi ini adalah perjalanan spiritual tentang asal-usul ilmu, bahasa, dan kesadaran manusia, yang berpuncak pada ajakan untuk bersyukur atas segala nikmat Tuhan.
Identitas Karya
- Judul: Arrahman
- Pengarang: ESu
- Tempat & Tanggal: Pisangan Timur, 21 November 2025
Isi dan Makna
Puisi Arrahman merupakan refleksi spiritual yang menekankan kasih sayang Tuhan sebagai sumber segala ilmu, bahasa, dan kehidupan. Penyair mengangkat tema besar tentang:
- Kasih Ilahi: Tuhan digambarkan sebagai Maha Pengasih yang mencipta manusia dan membekalinya dengan akal serta hati.
- Bahasa dan Pengetahuan: Bahasa awalnya satu, lalu berkembang sesuai kebutuhan manusia untuk berinteraksi. Hal ini menegaskan peran bahasa sebagai medium kreasi sekaligus tantangan.
- Pengajaran Ilahi: Tuhan mengajarkan Adam nama-nama benda, simbolisasi dari ilmu pengetahuan dan panduan hidup.
- Keseimbangan Alam: Alam diciptakan dengan harmoni, mengajak manusia untuk melihat, mendengar, dan merenungkan nikmat Tuhan.
Gaya dan Struktur
- Bahasa: Lugas, sederhana, namun sarat makna religius dan filosofis.
- Struktur: Berbentuk larik bebas, tanpa rima baku, menekankan isi ketimbang bentuk.
- Citraan: Menggunakan citraan inderawi (lihat, dengar, renungkan) untuk mengajak pembaca merasakan langsung kehadiran Tuhan.
- Nada: Kontemplatif, penuh perenungan, sekaligus mengajak pembaca untuk bersyukur.
Nilai dan Pesan
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa:
- Ilmu, bahasa, akal, dan hati adalah anugerah Tuhan yang harus digunakan untuk bernalar dan berempati.
- Bahasa menjadi sarana penting dalam membangun peradaban, komunikasi, dan interaksi manusia.
- Alam adalah kitab terbuka yang harus direnungkan, bukan didustakan.
Arrahman adalah puisi reflektif yang menggabungkan spiritualitas, filsafat bahasa, dan kesadaran ekologis. Karya ini mengajak pembaca untuk kembali merenungi asal-usul ilmu, bahasa, dan keseimbangan alam sebagai bukti kasih Tuhan.
editor: Akhlanudin








