Intisari Berita
- Penyebab: Hujan ekstrem yang disebabkan oleh bibit siklon tropis Senyar di Selat Malaka, suhu permukaan laut yang lebih hangat, fase Indian Ocean Dipole (IOD) negatif, dan kondisi topografi yang memperparah keadaan.
- Dampak: Bencana ini menyebabkan banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Setidaknya 25 orang tewas di Sumatera Utara, 5 orang di Padang, dan 2 orang di Agam. Kerusakan fisik meliputi jalan yang tertutup, rumah yang hanyut, dan infrastruktur yang lumpuh. Puluhan ribu warga terdampak dan ribuan mengungsi.
- Penanganan: Pemerintah dan berbagai unsur terkait bergerak cepat untuk melakukan evakuasi, membuka dapur umum, mengirimkan bantuan, dan memulihkan jaringan listrik serta telekomunikasi yang terputus.
- Mitigasi: Artikel ini menekankan pentingnya memperkuat sistem mitigasi, meningkatkan pemanfaatan peringatan dini, memperbaiki tata ruang, merehabilitasi dan konservasi daerah aliran sungai (DAS), serta meningkatkan kapasitas BPBD dan SAR daerah.
Jakarta, 28 November 2025 – Serangkaian bencana hidrometeorologi melanda berbagai wilayah di Sumatera, memicu perhatian serius terhadap sistem mitigasi dan kesiapsiagaan. Hujan ekstrem yang tak kunjung reda sejak pertengahan November menjadi pemicu utama, diperparah oleh bibit siklon tropis 95B yang kemudian menguat menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka. Fenomena ini, yang jarang terjadi di dekat garis khatulistiwa, meningkatkan suplai uap air dan memicu hujan lebat.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa Senyar adalah sistem yang tidak lazim, dengan intensifikasi yang signifikan. Peneliti iklim BMKG, Siswanto, menambahkan bahwa suhu permukaan laut yang lebih hangat dari biasanya menjadi bahan bakar tambahan bagi pertumbuhan sistem tropis ini. Selain itu, fase Indian Ocean Dipole (IOD) negatif turut menarik uap air dari Samudra Hindia, meningkatkan intensitas hujan di luar pola musim normal.
Kondisi topografi Sumatera, dengan pegunungan curam dan tanah labil, memperparah situasi. Tanah yang cepat jenuh air menyebabkan longsor serentak di banyak titik, mengubur jalan nasional dan memutus hubungan antarkota.
Dampak yang Signifikan
Sumatera Utara menjadi wilayah yang paling parah terdampak, dengan setidaknya 25 korban jiwa akibat banjir bandang dan longsor di Tapanuli, Sibolga, dan sekitarnya. Material longsor menutup jalan, menjebak warga, dan memutus aliran logistik. Di Padang, banjir bandang menewaskan lima orang di bantaran Sungai Lubuk Minturun. Agam juga mengalami dampak serupa dengan dua korban jiwa dan satu orang hilang akibat galodo di Nagari Malalak Timur.
Aceh mencatat dampak terluas, dengan 46.893 warga terdampak dan hampir 1.500 orang mengungsi. Genangan air merendam ribuan rumah di Lhokseumawe, Aceh Utara, Langsa, dan Bireuen, dengan ketinggian mencapai 1 meter. Jalan nasional berubah menjadi sungai, menyebabkan ribuan kendaraan terjebak.
Selain korban jiwa dan kerusakan fisik, bencana ini melumpuhkan layanan dasar. Ribuan rumah kehilangan listrik akibat menara SUTT roboh, dan jaringan telekomunikasi terputus di beberapa titik, terutama di Tapanuli Tengah. Fasilitas pendidikan dan kesehatan juga terendam, menghentikan aktivitas masyarakat.
Banjir besar juga tercatat di Malaysia dan Thailand, menunjukkan bahwa fenomena Senyar merupakan peristiwa meteorologi berskala regional. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah, terutama dari kerusakan infrastruktur, rumah warga, lahan pertanian, dan jaringan kelistrikan.
Upaya Penanganan Bencana
Pemerintah bergerak cepat dalam penanganan bencana ini. Di Sumatera Utara, fokus utama adalah membuka akses jalan yang terputus akibat longsor. BPBD mengerahkan alat berat, meskipun hujan yang terus turun dan tanah yang bergerak memperlambat proses pembersihan.
Di Aceh, evakuasi dilakukan menggunakan perahu karet, terutama bagi warga lanjut usia, ibu hamil, dan anak-anak. Pelaksana Tugas Kepala BPBA, Fadmi Ridwan, menekankan koordinasi intensif untuk menyelamatkan warga dan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Kementerian Sosial juga mengirimkan bantuan sebesar Rp 2,6 miliar berupa tenda, kasur, makanan siap saji, dan paket perlengkapan keluarga.
Mitigasi untuk Mencegah Bencana Berulang
Pelajaran utama dari bencana ini adalah perlunya memperkuat sistem mitigasi. BMKG menegaskan bahwa cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Direktur Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menekankan bahwa kesiapsiagaan adalah kunci.
Langkah-langkah mitigasi yang perlu dilakukan meliputi:
- Peningkatan Pemanfaatan Peringatan Dini: Pemerintah daerah harus memastikan peringatan diikuti tindakan konkret seperti penutupan jalur rawan longsor, evakuasi dini, dan penyiapan posko pengungsian.
- Perbaikan Tata Ruang: Evaluasi ulang permukiman di bantaran sungai, daerah hulu tanpa sabuk hijau, dan kawasan lereng curam. Relokasi jangka panjang mungkin menjadi solusi untuk mencegah jatuhnya korban berulang.
- Rehabilitasi dan Konservasi DAS: Pengerukan sungai yang menyempit, perkuatan tebing, dan pembangunan sabo dam untuk menahan material dari hulu. Pengawasan pembangunan di hulu harus diperketat.
- Adaptasi Infrastruktur: Desain menara listrik, jalan nasional, dan jembatan harus mampu menghadapi curah hujan ekstrem.
- Peningkatan Kapasitas BPBD dan SAR Daerah: Pelatihan rutin, penambahan peralatan, serta jalur evakuasi daring perlu diprioritaskan.
Dengan langkah-langkah mitigasi yang tepat, diharapkan dampak bencana hidrometeorologi di Sumatera dapat diminimalkan di masa depan.












