Intisari Berita
- RSUD dr. H. Marsidi Judono meluncurkan program SUAT (Siap Untuk Antar Obat) untuk pasien lansia dan kronis.
- Direktur RSUD, dr. Gultom, turun langsung ke rumah pasien: mengantar obat, memantau kepatuhan terapi, dan memberi edukasi.
- Fokus kunjungan: cara minum obat, penyimpanan, risiko obat kedaluwarsa, serta jadwal kontrol.
- Ditemukan banyak pasien menyimpan obat bercampur, bahkan yang sudah expired → berisiko salah minum dan keracunan.
- Tim farmasi memberi edukasi cara memilah dan menyimpan obat dengan benar.
- Warga merasa terbantu karena tidak perlu antre di rumah sakit, sekaligus mendapat perhatian langsung dari direktur.
- Program SUAT akan diperluas di Belitung untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih humanis, efektif, dan menyentuh masyarakat hingga ke rumah.
Tanjung pandan Belitung– RSUD dr. H. Marsidi Judono memperkuat pelayanan kesehatan berbasis jemput bola melalui program SUAT (Siap Untuk Antar Obat). Direktur RSUD, dr. Gultom, turun langsung ke rumah pasien lansia dan penderita penyakit kronis untuk mengantar obat sekaligus memantau kepatuhan terapi.
Program ini menjadi solusi bagi pasien dengan keterbatasan mobilitas, khususnya penderita hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan lainnya. Dengan layanan antar obat, pasien tidak perlu antre di rumah sakit, sehingga kenyamanan meningkat dan keberlanjutan terapi terjaga.
Dalam kunjungan ke rumah pasien, dr. Gultom melakukan monitoring menyeluruh terkait:
- Kepatuhan minum obat
- Cara penyimpanan obat di rumah
- Risiko obat kedaluwarsa
- Edukasi jadwal kontrol dan pemeriksaan ulang
Ia menemukan banyak pasien menyimpan obat dari berbagai sumber (RSUD, Puskesmas, praktik mandiri) dalam satu tempat, bahkan ada yang masih menyimpan obat expired.
“Ini sangat berbahaya. Obat yang menumpuk tanpa pemilahan bisa menimbulkan risiko salah minum, kelebihan dosis, hingga keracunan,” tegas dr. Gultom.
Tim farmasi RSUD memberikan edukasi cara memilah obat, membuang obat kedaluwarsa, dan menyimpan obat sesuai aturan agar kualitas tetap terjaga. Pendekatan langsung ini dinilai lebih efektif karena melihat kondisi nyata di rumah pasien.
Selain itu, pasien juga diingatkan pentingnya pemeriksaan berkala agar pengobatan dapat disesuaikan sesuai perkembangan kondisi.
“Kami tidak ingin pasien hanya menerima obat, tetapi juga benar-benar memahami cara penggunaannya,” ujar dr. Gultom.
Warga penerima program SUAT merasa sangat terbantu karena tidak perlu lagi datang ke rumah sakit yang jauh. Kehadiran direktur rumah sakit secara langsung memberi rasa perhatian dan kenyamanan.
“Kami sangat berterima kasih. Direktur datang langsung menjelaskan cara minum obat, membuat kami lebih tenang,” ungkap keluarga pasien lansia.
Program SUAT akan diperluas cakupannya di Kabupaten Belitung. RSUD menegaskan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berhenti di fasilitas rumah sakit, tetapi harus menyentuh rumah-rumah warga yang membutuhkan perhatian khusus.
Dengan komitmen turun langsung ke lapangan, dr. Gultom berharap pelayanan kesehatan yang lebih humanis, efektif, dan menyeluruh dapat terus terwujud.












