Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup di level Rp18.029 per dolar AS, turun 63 poin atau 0,35 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Angka ini sekaligus menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah.
Dalam enam bulan terakhir, rupiah tercatat sudah terdepresiasi 7,29 persen terhadap dolar AS. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak langsung terhadap harga barang impor dan produk yang bergantung pada bahan baku luar negeri.
Ekonom Paramadina, Wijayanto Samirin, menjelaskan pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya impor. “Pelaku usaha harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli barang, bahan baku, maupun komponen dari luar negeri. Biaya produksi naik, dan pada akhirnya harga barang serta jasa akan ikut terdorong naik,” ujarnya. Ia menambahkan, setiap depresiasi rupiah sebesar 10 persen berpotensi menambah inflasi hingga 0,5–1 persen.
Sejumlah sektor diperkirakan paling terdampak. Produk elektronik menjadi salah satu yang berpotensi naik harga karena biaya produksi meningkat. Selain itu, barang berbahan baku impor seperti mesin, komponen industri, dan bahan kimia juga akan terpengaruh. Barang konsumsi sehari-hari yang masih bergantung pada transaksi dolar AS pun tidak luput dari tekanan.
Wijayanto menekankan, rupiah saat ini melemah terhadap 86 persen mata uang dunia. Sementara itu, mata uang negara tetangga seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan dong Vietnam justru menguat terhadap dolar AS. “Tekanan nilai tukar dolar yang tinggi bisa menghambat aktivitas ekonomi dan dunia usaha di Indonesia,” katanya.
Dengan pelemahan rupiah yang menembus Rp18.029 per dolar AS, masyarakat diimbau untuk bersiap menghadapi kenaikan harga barang impor dan produk berbahan baku dolar. Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan segera mencari strategi untuk meredam dampak inflasi agar daya beli masyarakat tetap terjaga.












