MEDIA DAULAT RAKYAT BELITUNG TIMUR – Pemandangan tak biasa terlihat di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Desa Padang, Kecamatan Manggar, Belitung Timur. Antrean kendaraan tampak mengular panjang hingga meluber ke bahu jalan raya. Fenomena ini dipicu oleh efek ganda: pemangkasan kuota harian Pertalite dan lonjakan migrasi konsumen menyusul kenaikan harga Pertamax yang cukup signifikan.
Kombinasi antara menipisnya pasokan hilir dan pergeseran perilaku konsumen ini seketika menciptakan kemacetan di sekitar area SPBU, sekaligus memaksa warga bersabar menghadapi waktu tunggu yang menguras waktu.
Efek Domino Kenaikan Harga Pertamax
Pemicu utama terjadinya lonjakan antrean ini adalah penyesuaian harga BBM non-subsidi. Harga Pertamax yang melonjak tajam dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter memaksa para pemilik kendaraan memutar otak demi menjaga isi dompet mereka.
Dengan selisih mencapai Rp6.650 per liter dibanding Pertalite yang tetap bertahan di angka Rp10.000 per liter, masyarakat berbondong-bondong beralih ke BBM bersubsidi.
Pengelola SPBU Desa Padang, Jumhari, membenarkan adanya lonjakan harga yang memicu migrasi konsumen ini.
”Untuk hari ini, memang ada kenaikan harga Pertamax yang cukup signifikan, dari yang semula Rp12.600 kini disesuaikan menjadi Rp16.650 per liternya,” ujar Jumhari.
Dampaknya langsung terasa di lapangan. Jalur pengisian Pertamax terpantau sepi melompong, sementara jalur Pertalite diserbu pengendara sejak pagi hingga sore hari. Warga juga enggan beralih ke pengecer di luar SPBU karena harganya yang mencapai Rp13.000 per liter dinilai masih terlalu mahal.
Kuota Pangkas, Antrean Mengular
Kondisi diperparah oleh kebijakan pengurangan pasokan harian Pertalite ke SPBU tersebut. Menurut pihak pengelola, volume Pertalite yang mereka terima saat ini lebih sedikit dari biasanya, menyebabkan stok habis dalam waktu yang jauh lebih cepat.
Bagi masyarakat, realita di lapangan berarti hilangnya waktu produktif demi mendapatkan bahan bakar murah. Jaya (39), seorang warga Manggar, mengeluhkan panjangnya antrean yang harus ia lalui.
”Ada lah sekitar setengah jam lebih saya mengantre di sini. Antreannya memang panjang sekali hari ini, tadi waktu saya baru datang posisinya bahkan sudah sampai keluar dari area pom bensin,” ungkap Jaya kepada media.
Ancaman Kelangkaan dan Beban Ekonomi
Berikut adalah peta perbandingan harga dan dampak riil yang terjadi di lapangan saat ini:
| Jenis BBM | Harga per Liter | Dampak Riil di SPBU Desa Padang |
|---|---|---|
| Pertamax | Rp16.650 | Jalur pengisian sepi, konsumen bermigrasi massal. |
| Pertalite | Rp10.000 | Antrean mengular ke jalan, stok cepat habis. |
| Eceran Luar SPBU | Rp13.000 | Sepi peminat akibat selisih harga yang kurang ekonomis. |
Jika pola distribusi tidak segera dievaluasi atau ditambah oleh pihak terkait, risiko kelangkaan berulang akan terus membayangi wilayah Belitung Timur.
Antrean panjang di SPBU Desa Padang menjadi potret nyata bagaimana kebijakan harga di tingkat hulu langsung berdampak pada mobilitas dan beban ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput, di mana waktu dan penghematan kini harus ditebus dengan antrean panjang di bawah terik matahari.












