
Media Daulat Rakyat BELITUNG TIMUR, 28 Agustus 2026 – Umat Tionghoa di Belitung Timur merayakan puncak Sembahyang Rebut dengan meriah pada Kamis, 27 Agustus 2026. Acara pusat berlangsung di Kelenteng Fuk Tet Che, Kelapa Kampit, dengan pembakaran patung raksasa Thai Se Ja dan kapal kertas yang disaksikan ratusan warga.
Rangkaian Acara di Kelenteng Fuk Tet Che
Perayaan ini bertepatan dengan tanggal 15 bulan ketujuh kalender Imlek. Ratusan warga lokal memadati kelenteng, ditambah tamu dari Tanjungpandan, Pontianak, Jakarta, dan daerah lain.
Prosesi utama meliputi tiga kegiatan:
- Perebutan sesajen berupa makanan dan buah yang telah didoakan oleh para pemuka agama.
- Pembakaran patung Thai Se Ja berukuran belasan meter.
- Pembakaran replika kapal kertas dan kendaraan simbolis sebagai penutup ritual.
Makna dan Tradisi
Sembahyang Rebut merupakan ritual doa keselamatan, kelancaran rezeki, dan penghormatan kepada leluhur.
Patung Thai Se Ja dan kapal kertas melambangkan pelepasan roh serta harapan agar masyarakat terhindar dari marabahaya sepanjang tahun.
Yang menarik, perayaan ini tidak hanya diikuti umat Tionghoa. Masyarakat lintas etnis di Belitung Timur juga ikut menyaksikan, sehingga memperkuat semangat toleransi yang sudah lama hidup di pulau tersebut.
Perbandingan Perayaan Sembahyang Rebut di Babel Agustus 2026
Lokasi Ciri khas Tanggal puncak
Belitung Timur /Kelapa Kampit/ Pembakaran patung Thai Se Ja dan kapal kertas 27 Agustus 2026
Bangka /Merawang, Kelenteng Setia Budi/ Patung Raja Neraka 12 meter dibakar, lelang payung hingga Rp150 juta 27 Agustus 2026
Pangkalpinang /Klenteng Bong Fa Pakkung/ Perebutan hasil bumi, simbol toleransi antar etnis 28 Agustus 2026
Catatan Penting
Keramaian perayaan membuat akses jalan dan area parkir di sekitar Kelenteng Fuk Tet Che padat oleh kendaraan pengunjung.
Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun dan diwariskan turun temurun. Di Bangka Belitung, Sembahyang Rebut menjadi bukti kuat kebersamaan lintas etnis dan simbol persaudaraan masyarakat.












