
Asap, Api, dan Buni yang Terbakar
Asap naik pelan dari ujung buni
bukan kabut pagi, bukan uap hujan.
Itu napas hutan yang dicekik,
dibakar demi angka di atas kertas.
Api menjilat tanah,
melahap akar buni yang dulu jadi tempat berteduh.
Buah merahnya jatuh, masam di tanah hangus,
tak sempat dipetik anak-anak kampung.
Di balik asap itu ada nama,
ada tanda tangan dan stempel basah.
Keserakahan berseragam rapi,
berbisik: “Lahan kosong, bakar saja.”
Hutan jadi arang.
Langit jadi kelabu.
Paru-paru nelayan dan guru sekolah
menjadi invoice yang tak pernah dibayar.
Buni terbakar bukan karena matahari,
tapi karena tamak yang tak kenal musim.
Karena ada yang menjual tanah
demi rupiah yang tak akan dibawa mati.
Wahai api, padamlah.
Wahai asap, pulanglah ke awan.
Biarkan buni tumbuh lagi,
biar anak cucu masih kenal
rasa masam yang jujur dari tanahnya sendiri.
Jakarta 3 September 2026
Akhlanudin












