Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • BMKG Jelaskan Fenomena Air Laut Surut di Selat Madura dan Anak Krakatau Bukan Tanda Tsunami
InShot 20260909

BMKG Jelaskan Fenomena Air Laut Surut di Selat Madura dan Anak Krakatau Bukan Tanda Tsunami

MEDIA DAULAT RAKYAT JAKARTA, 9 September 2026 – Fenomena air laut menyusut yang viral di media sosial awal September 2026 terjadi di sejumlah wilayah pesisir Indonesia. Dua lokasi yang paling disorot adalah Selat Madura dan perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda.

BMKG menegaskan surutnya air laut tersebut merupakan bagian dari siklus pasang-surut astronomis normal dan bukan merupakan pertanda tsunami. Masyarakat diminta tidak panik namun tetap waspada.

Lokasi Fenomena yang Terekam

1. Selat Madura – 7 September 2026
Pada Minggu 7 September 2026, air laut di Selat Madura surut cukup jauh hingga dasar perairan terlihat jelas. Kondisi ini menyebabkan beberapa perahu nelayan di sekitar Jembatan Suramadu sempat kandas.
Di sisi lain, warga memanfaatkan surut ekstrem untuk mencari kerang, biota laut, dan berwisata murah di pesisir. Video dan foto dasar laut yang biasanya tertutup air menjadi viral di media sosial.

2. Selat Sunda – Sekitar Gunung Anak Krakatau
Video serupa juga beredar dari pesisir dekat Gunung Anak Krakatau. Dalam rekaman terlihat garis pantai mundur jauh ke tengah laut.
BMKG melalui 20 titik tide gauge di Selat Sunda memastikan pola yang terjadi masih dalam rentang pasang-surut normal. Tidak ditemukan anomali yang mengarah pada tsunami.

Penjelasan BMKG

BMKG memberikan tiga poin penjelasan terkait fenomena ini:

1. Pasang-surut astronomis
Surutnya air laut dipengaruhi oleh posisi bulan dan matahari terhadap bumi. Pada awal September 2026 terjadi kombinasi fase perigee dan bulan baru yang memperkuat gaya gravitasi, sehingga elevasi air laut menjadi lebih rendah saat surut dan lebih tinggi saat pasang.

2. Tidak ada sinyal tsunami
Hingga 9 September 2026, jaringan seismik BMKG tidak mendeteksi adanya gempa tektonik, longsoran besar, atau perpindahan massa di bawah laut yang dapat memicu tsunami di Selat Madura maupun Selat Sunda.

3. Imbauan kepada masyarakat
BMKG mengingatkan agar warga tetap waspada. Jika air laut surut mendadak disertai suara gemuruh, getaran, atau gelombang datang tidak biasa, segera menjauh ke tempat tinggi dan ikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG, dan BPBD setempat.

Fenomena Terkait: Peringatan Banjir Rob

Bersamaan dengan surut, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini banjir rob periode 4–17 September 2026 di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
Peningkatan ketinggian air laut maksimum dipicu oleh fase perigee pada 7 September dan fase bulan baru pada 11 September.
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi pesisir Jakarta, Jawa Barat, sebagian Sumatera, dan Kepulauan Riau.

Risiko dan Dampak di Lapangan

Nelayan: Aktivitas melaut terganggu karena perahu kandas dan alur pelayaran dangkal. Nelayan di Selat Madura diminta mengecek jadwal pasang surut sebelum melaut.
Warga pesisir: Berpotensi menghadapi banjir rob pada saat air pasang tertinggi, terutama di permukiman dekat pantai dan muara sungai.
Wisata dan aktivitas pantai: Surut ekstrem memang menarik untuk wisata edukasi dan mencari biota laut. Namun pengunjung diminta tidak lengah karena perubahan pasang bisa terjadi cepat.

Visual dan Edukasi Publik
Fenomena ini menarik perhatian karena memperlihatkan bentang dasar laut yang jarang terlihat. BMKG memanfaatkan momen ini untuk edukasi bahwa tidak semua surut laut adalah tanda tsunami. Pemahaman tentang siklus astronomis penting agar informasi hoaks tidak menyebar.

BMKG terus memantau data tide gauge 24 jam dan berkoordinasi dengan PVMBG terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Artikel Terkait

InShot 20260909

400+ Warga Beltim Terindikasi Judi…

MEDIA DAULAT RAKYAT BELITUNG TIMUR, 9…

1788933865473

Presiden Teken Perpres 79/2026, Tata…

MEDIA DAULAT RAKYAT JAKARTA, 9 September…

InShot 20260909

0,8 Hektare Kebun di Dusun…

MEDIA DAULAT RAKYAT BELITUNG TIMUR, 9…