JAKARTA, Media Daulat Rakyat – Suasana ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Timur mendadak hening ketika Mantan Presiden Joko Widodo memberikan kesaksian yang menyentuh hati dalam sidang kasus dugaan pencemaran nama baik dan ijazah palsu yang melibatkan Dokter Tifa dan Roy Suryo, Kamis (5/11/2026) malam.
Dengan mengenakan kemeja batik coklat dan peci hitam, Jokowi hadir didampingi putrinya Kahiyang Ayu dan putranya Kaesang Pangarep. Di hadapan Ketua Majelis Hakim dan kuasa hukum terdakwa, Jokowi akhirnya membuka tabir kisah masa kecilnya yang selama ini jadi polemik.
Bernama Mulyono Saat Lahir, Sering Sakit-sakitan
Jokowi mengakui bahwa saat dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, pada 21 Juni 1961, orang tuanya memberinya nama Mulyono bin Notomihardjo.
Namun, bayi Mulyono kecil ternyata sering sakit-sakitan, panas tinggi tak kunjung sembuh. Dalam tradisi Jawa, jika bayi terus sakit, itu pertanda namanya terlalu berat atau kabotan jeneng. Orang tuanya, Notomihardjo dan Sujiatmi Notomihardjo, akhirnya menggelar ritual ruwatan ganti nama.
“Saat itu diceritakan oleh ibu saya namanya Mulyono. Tetapi karena sakit-sakit, kemudian diganti menjadi Joko Widodo,” ujar Jokowi dengan suara pelan namun tegas dalam persidangan.
Nama Joko Widodo sendiri memiliki makna filosofis. Joko berarti anak laki-laki, sedangkan Widodo berarti selamat dan sejahtera. Setelah diganti nama, ajaibnya kesehatan Jokowi membaik.
Kisah ini pernah diceritakan Jokowi dalam wawancara eksklusif dengan Liputan6 pada September 2023 dan juga tertulis dalam buku biografi “Jokowi Menuju Cahaya” karya Alberthiene Endah.
Tak Punya Akta Kelahiran Karena Keluarga Miskin
Momen paling mengharukan adalah ketika Jokowi mengungkap alasan mengapa dirinya tidak memiliki akta kelahiran saat bayi.
Jokowi mengaku berasal dari keluarga yang sangat tidak mampu. Ayahnya hanya seorang pedagang kayu dan bambu keliling, ibunya pedagang di Pasar Gede Solo. Mereka bahkan tidak punya rumah.
Keluarga kecil itu harus tinggal di rumah kontrakan petak di bantaran Kali Anyar, Kampung Cinderejo Lor, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo. Selama 12 tahun hidup di bantaran kali, rumah mereka tiga kali digusur.
Karena kemiskinan yang menghimpit, mengurus akta kelahiran dianggap sebagai kemewahan yang tak mampu mereka jangkau.
“Karena Yang Mulia, saya adalah dari keluarga yang tidak mampu, waktu itu kami tidak mengurus akta kelahiran pada saat lahir,” tutur Jokowi di hadapan majelis hakim. Suasana sidang pun terdiam.
Dengan demikian, nama Mulyono hanya dikenal sebagai nama kecil pemberian keluarga, namun tidak pernah tercatat dalam dokumen resmi negara.
Jualan Es, Jadi Kuli Panggul Sejak SD
Jokowi kecil juga sudah harus bekerja keras. Sejak SD, ia berjualan es murni, menjadi ojek payung saat hujan, hingga menjadi kuli panggul dan tukang gergaji kayu untuk membantu biaya sekolah.
Penderitaan itu yang membentuk mentalnya menjadi pekerja keras hingga akhirnya bisa masuk Fakultas Kehutanan UGM.
Soal Nama Mulyadi dan Purwoko
Dalam sidang yang sama, Jokowi juga menyinggung maraknya penggunaan nama Mulyono maupun nama lain seperti Mulyadi, Purwoko, dan Jack dalam berbagai pembahasan di media sosial terkait isu dugaan ijazah palsu.
Menurutnya, meski menggunakan sebutan berbeda untuk menyerangnya, masyarakat tetap tahu siapa sosok yang dimaksud.
“Semua orang tahu, masyarakat tahu bahwa yang dibahas itu adalah Joko Widodo,” kata Jokowi.
Jokowi juga menegaskan tidak pernah memiliki nama lain selain Mulyono (nama kecil) dan Joko Widodo (nama resmi). Nama Purwoko disebut pertama kali oleh kader PSI, Dian Sandi Permana, dalam siniar YouTube Forum Keadilan TV. Sementara nama Jack muncul dalam sidang gugatan citizen lawsuit di PN Surakarta pada 3 Februari 2026. Jokowi mengaku tidak mengenal kedua nama tersebut.
Nama panggilan “Jokowi” sendiri bukan pemberian orang tua, melainkan pemberian dari Bernard Chene, pembeli mebel asal Prancis yang kesulitan membedakan banyak nama Joko di Jepara.
Tunjukkan Ijazah Asli
Di akhir sidang, Jokowi menunjukkan ijazah aslinya dari SD, SMP, SMA hingga S1 Fakultas Kehutanan UGM di hadapan hakim dan pengunjung sidang untuk membantah tudingan ijazah palsu yang dilayangkan Roy Suryo dan Dokter Tifa.
Kesaksian penuh haru ini menjadi salah satu bagian yang paling menyita perhatian publik dalam rangkaian sidang polemik ijazah palsu yang beberapa waktu terakhir ramai diperbincangkan.












