
Jakarta – Nama Edy Sukardi mungkin sudah akrab di telinga pegiat budaya Betawi. Budayawan, pendidik, penyair, sekaligus pendakwah ini punya satu prinsip yang dipegang teguh: “Budaya jangan hanya dilestarikan, tetapi harus dikembangkan.”
Bagi Edy, melestarikan tanpa meneruskan sama dengan membiarkan tradisi mati perlahan.
Dari Pondok Pinang ke Panggung Nasional
Edy lahir di Pondok Pinang, Jakarta, 11 Mei 1956. Ia besar di lingkungan Betawi yang kental dengan tradisi. Pendidikan formal ditempuh di IKIP Muhammadiyah Jakarta, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Sejak muda ia aktif di 3 dunia sekaligus: kesenian Betawi, sastra, dan Muhammadiyah. Alih-alih memisahkannya, Edy justru merajut ketiganya jadi satu kesatuan nilai dalam pengabdiannya.
Gelisah Lihat Tradisi Kehilangan Penerus
Kegelisahan Edy muncul saat melihat kesenian seperti rebana ketimpring, tanjidor, dan lenong hanya dimainkan generasi tua. Anak muda jarang terlibat.
“Tanpa penerus, warisan budaya hanya jadi dokumentasi. Dengan penerus, warisan itu hidup,” katanya.
Karena itu ia mendirikan Teater Batavia. Di sana remaja dilatih, diberi ruang, dan didorong berimprovisasi di panggung lenong. Tujuannya satu: membuat tradisi tidak hanya ditonton, tapi juga dimainkan generasi baru.
Betawi Adalah Budaya Pertemuan
Dalam pandangan Edy, Betawi bukan budaya tunggal. Ia lahir dari akulturasi panjang: Sunda, Jawa, Cina, Arab, Bali, hingga Eropa. Buktinya ada di gambang kromong, keroncong Tugu, dan marawis.
“Keaslian bukan berarti tanpa percampuran,” tegasnya. Kreativitas anak muda bukan ancaman. Justru itu jalan agar kebudayaan tetap relevan dan tidak beku.
Puisi, Dakwah, dan Kampus
Produktivitas Edy menulis puisi mencapai ribuan karya. Puisinya sederhana tapi mengena, seperti “Kancing Baju” yang mengingatkan pada nikmat kesehatan.
Di mimbar dakwah, ia memadukan cerita, pantun, humor, dan puisi agar pesan agama lebih mudah diterima. Di kampus, ia membawa seni masuk ke ruang akademik agar pembelajaran tidak hanya teori, tapi juga pengalaman.
Muhammadiyah Sebagai Rumah Pengabdian
Di Muhammadiyah, Edy aktif di berbagai lini. Ia pernah menjabat Ketua PDM Jakarta Selatan dan aktif di Lembaga Seni Budaya PWM DKI Jakarta. Ia juga terlibat dalam pementasan bertema tokoh bangsa.
Bagi Edy, organisasi bukan sekadar struktur. Itu jaringan untuk menghidupkan gagasan.
Dari Melestarikan ke Mengembangkan
Edy konsisten menolak budaya yang “itu-itu lagi”. Dokumentasi penting, tapi yang lebih penting adalah pelibatan anak muda.
“Jangan sampai kesannya selalu itu lagi, itu lagi,” ujarnya. Generasi baru harus naik panggung, boleh salah, boleh bereksperimen. Karena pewarisan sejati bukan melahirkan fotokopi, tapi kelanjutan.
Warisan yang Hidup
Warisan Edy Sukardi bukan hanya buku atau jabatan. Ia meninggalkan cara pandang: budaya hidup lewat pewarisan, pendidikan butuh kreativitas, seni bisa jadi jalan dakwah, dan tradisi akan tetap relevan kalau disentuh anak muda.
Ia mempertemukan dunia yang sering dipisahkan: seni dengan agama, kampus dengan rakyat, tradisi dengan kreativitas.
Jejak Edy Sukardi adalah ikhtiar panjang agar kebudayaan Betawi tidak kehilangan penerus. Keberhasilannya tidak diukur dari seberapa lama ia di panggung, tapi dari seberapa siap generasi baru menggantikannya.
Di sanalah kebudayaan akan mendapat umur paling panjang.














