JAKARTA, Media Daulat Rakyat – Politikus Singapura Calvin Cheng memicu kontroversi setelah mengunggah pernyataan yang mengisyaratkan pemutusan jalur internet Indonesia di platform X. Unggahan tersebut langsung mendapat respons tegas dari Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid.
Meutya menegaskan, ancaman tersebut justru berisiko melumpuhkan konektivitas Singapura sendiri, karena sebagian besar kabel laut yang mendarat di negara itu melewati perairan Indonesia.
Kronologi Ancaman
Kontroversi bermula dari unggahan Calvin Cheng pada 25 Oktober 2026. Mantan anggota parlemen Singapura itu menampilkan infografis yang menyebut 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia melewati Singapura, disertai kata “Cut?” atau “Potong?”.
Unggahan tersebut muncul di tengah ketegangan akibat kebijakan Indonesia memangkas ekspor gas ke Singapura.
Setelah menuai kecaman luas, Cheng kemudian memberikan klarifikasi. Ia menulis bahwa Singapura tidak akan benar-benar memutus jaringan karena “kami masyarakat beradab yang taat hukum”.
Tanggapan Tegas Menkomdigi
Menkomdigi Meutya Hafid menilai pernyataan Calvin Cheng tidak perlu disikapi dengan kemarahan, namun harus dijawab dengan fakta infrastruktur.
“Kita tidak perlu geram. SKKL yang mendarat di Singapura tidak sampai dengan tiba-tiba. Sebagian besar jalurnya melalui perairan Indonesia. Jika terpotong atau dipotong, 80 persen kapasitas konektivitas Singapura juga terancam lumpuh,” ujar Meutya Hafid.
Ia menjelaskan bahwa Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang menjadi tulang punggung internet regional tidak berdiri sendiri. Jalurnya saling terhubung dan melewati yurisdiksi beberapa negara, termasuk Indonesia.
Menurut Meutya, posisi tawar Indonesia sangat kuat. Dengan 267 juta pengguna internet, jumlah tersebut 47 kali lipat dari jumlah penduduk Singapura. Indonesia adalah pasar strategis bagi perusahaan teknologi global. Tanpa akses ke pasar Indonesia, investor berpotensi hengkang dari Singapura.
“Infrastruktur digital adalah kepentingan bersama, bukan alat ancaman. Kita tidak boleh berpikir kerdil. Infrastruktur digital adalah sektor yang perlu dijaga bersama, tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tapi juga untuk konektivitas global,” tegasnya.
Analisis Dampak
Bagi Indonesia, ancaman pemutusan internet tersebut lebih bersifat simbolis. Indonesia masih memiliki jalur alternatif konektivitas melalui beberapa sistem kabel laut lain yang tidak hanya bergantung pada Singapura.
Sebaliknya, bagi Singapura risikonya jauh lebih besar. Ketergantungan pada jalur kabel yang melintasi perairan Indonesia membuat negara tersebut rentan jika terjadi gangguan.
Secara regional, polemik ini menyoroti rapuhnya ekosistem digital ASEAN yang sangat bergantung pada infrastruktur lintas negara. Perselisihan politik dinilai tidak seharusnya merembet ke sektor digital yang menjadi kebutuhan vital masyarakat.
Penulis: Tim Redaksi Media Daulat Rakyat
Editor: Akhlanudin












