Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • Jejak Sakral di Pantai Kramat – Mengungkap Makna di Kuburan Kramat Lalang Manggar Belitung Timur
Img 20250728 070350

Jejak Sakral di Pantai Kramat – Mengungkap Makna di Kuburan Kramat Lalang Manggar Belitung Timur

Img 20250728 070350

Oleh: Akhlanudin*

Manggar, Belitung Timur — Di antara riak ombak dan hamparan pasir putih Pantai Kramat, berdiri sebuah gugusan batu yang tak hanya membisu, namun menyimpan gema spiritual yang telah hidup bersama masyarakat sejak generasi terdahulu.

Warga sekitar menyebutnya sebagai Kuburan Kramat atau Batu Kramat, terletak di pinggir jalan menuju pantai, tepatnya di Desa Lalang, Belitung Timur

“Bukan sekadar batu. Itu tempat orang zaman dulu bertawasul, berdoa, kadang untuk minta petunjuk,” tutur Pak Ismail, sesepuh adat Lalang yang telah 40 tahun menjaga situs ini.

Batu-batu berwarna kelabu berlumut itu dipercaya sebagai tapak peninggalan Datuk Letang, tokoh sakral dalam sastra lisan Melayu Belitung.

Menurut naskah dari tahun 1987 yang dikaji dalam Sastra Lisan Bahasa Melayu Belitung, Datuk Letang adalah sosok misterius yang menghilang tanpa jejak.

Kepergiannya mengundang pencarian batin dari anak angkatnya, seorang pemuda saleh yang meniti jalan spiritual.

Lokasi ini diyakini sebagai titik di mana sang Datuk pernah bertapa.

Namun bukan hanya legenda yang menghidupkan tempat ini.

Sejumlah warga mengaku merasakan ketenangan atau bahkan “tanda-tanda” gaib saat berziarah.

Mereka datang dengan niat baik—menaruh bunga, duduk bersila, dan berdiam sejenak, seperti menyatu dengan arus keyakinan leluhur.

“Saat kami gelar ritual adat, tempat itu jadi pusatnya. Tapi sekarang jarang, karena banyak yang tak tahu sejarahnya,” tambah Ibu Sari, pengurus kelompok budaya lokal.

Batu Kramat disebut-sebut menghadap langsung ke arah Masjid Al-Aqsa, sebuah simbol penghubung spiritual yang menambah dimensi mistik di mata masyarakat.

Meski klaim ini sulit dibuktikan secara geografis, makna simbolisnya tak lekang oleh waktu.

Di era digital, situs-situs kramat seperti ini berisiko terlupakan. Para pemerhati budaya mendesak perlunya dokumentasi dan pemetaan situs-situs sakral lokal agar tetap hidup dalam ingatan kolektif.

Beberapa komunitas mulai mengusulkan pelabelan heritage adat untuk Batu Kramat, menggabungkan pendekatan spiritual dan konservasi kultural.

Menjaga Etika Spiritual
Pengunjung yang datang diimbau untuk menjaga sikap dan ucapan, sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai lokal.

Di tempat seperti ini, kata warga, adat berbicara lebih dulu sebelum ilmu.

Kuburan Kramat di Pantai Kramat bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah cermin spiritual masyarakat Belitung Timur—diam tapi hidup, sederhana tapi bermakna.

Di tengah arus modernisasi, tempat ini mengajarkan bahwa yang sakral tak selalu harus megah; kadang ia hadir dalam bentuk batu, tanah, dan kesunyian yang berbicara.

  • Akhlanudin Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014-2018

Artikel Terkait

InShot 20260602

Puisi-puisi Edy Sukardi

Janji Manis ESu Kenapa engkau keluardari…

InShot 20260602

SPPG Air Saga Belum Beroperasi,…

BELITUNG – Wakil Bupati Belitung sekaligus…

InShot 20260602

Gelombang PHK 2026 Ungkap Rapuhnya…

JAKARTA – Gelombang pemutusan hubungan kerja…