
Belitung | 31 Juli 2025 “Kami dulu dengar nama itu dari para pekerja Belanda di Pegarun. Heitinga, katanya mandor tambang. Tapi sudah lama sekali…
— Pak Salim, tetua Desa Air Selumar
Pulau Belitung, yang dikenal dengan keindahan granit dan pasir putihnya, menyimpan cerita yang lebih dalam: fragmen sejarah kolonial yang membentuk jejak budaya, sosial, dan bahkan silsilah keluarga yang melintasi samudra.
Salah satu kisah yang mencuat dari cerita lisan masyarakat adalah dugaan bahwa keluarga Heitinga—nama yang identik dengan mantan bek tim nasional Belanda, John Heitinga—pernah berakar di tanah ini.
Sejak akhir abad ke-19, Belitung menjadi pusat penambangan timah Hindia Belanda. Desa Air Selumar dan kawasan Pegarun di Kecamatan Sijuk merupakan titik strategis di mana perusahaan seperti Billiton Maatschappij membangun barak, kantor, dan permukiman bagi insinyur serta pekerja tambang asal Eropa.
Nama-nama seperti Van der Velde, Rijnders, dan Heitinga muncul dalam cerita warga sebagai figur kolonial yang memiliki relasi sosial dengan perempuan lokal.
Satu narasi menyebut bahwa seorang mandor tambang Belanda bermarga Heitinga sempat menetap dan membangun rumah tangga singkat sebelum kembali ke negeri asal.
Cerita ini tidak tercatat dalam arsip lokal, namun masyarakat Air Selumar menyimpan ingatan akan interaksi lintas budaya tersebut.
Meski tidak ada bukti langsung yang mengaitkan John Heitinga dengan individu tersebut, kemunculan kembali nama “Heitinga” memunculkan pertanyaan: mungkinkah sang pemain memiliki akar keluarga dari Belitung?
Langkah berikutnya adalah menelusuri arsip kolonial di Belanda, seperti Nationaal Archief dan catatan Hindia Belanda.
Kolaborasi antara sejarawan lokal, komunitas adat, dan peneliti diaspora bisa mengungkap lebih dalam tentang hubungan antara nama-nama kolonial dan warisan yang ditinggalkan di Belitung.
Banyak keturunan campuran Belanda–Indonesia yang tumbuh tanpa pengetahuan tentang akar mereka.
Jika benar bahwa Heitinga memiliki koneksi ke Belitung, ia menjadi bagian dari narasi diaspora yang kompleks—di mana nama, identitas, dan warisan budaya melintasi batas sejarah dan geografis.












