
Oleh : Akhlanudin
Di pusat kota Tanjungpandan, berdiri sebuah jam tua yang tak hanya menunjukkan waktu, tetapi juga menyimpan jejak panjang sejarah Belitung. Jam Gede, begitu masyarakat menyebutnya, bukan sekadar benda mati di atas bangunan tua—ia adalah saksi bisu transformasi sosial, ekonomi, dan budaya pulau timah ini.
Jam Gede terletak di atas bangunan eks kantor pusat Billiton Maatschappij, perusahaan tambang timah milik Hindia Belanda yang mulai beroperasi di Belitung sejak pertengahan abad ke-19.
Bangunan ini kini dikenal sebagai Barata Department Store, namun jamnya tetap utuh, berdiri kokoh di menara yang menghadap ke Bundaran Satam.
Jam tersebut didatangkan langsung dari Amsterdam, lengkap dengan bandul kuningan dan angka Romawi klasik yang menghiasi wajahnya.
Pada masa jayanya, jam ini menjadi penentu ritme kehidupan kota—menandai waktu masuk kerja para buruh tambang, waktu buka pasar, hingga waktu pulang sekolah anak-anak Belitung.
Jam Gede bukan hanya penunjuk waktu, tetapi juga penanda identitas kota Tanjungpandan.
Ia berdiri di kawasan yang dulunya merupakan pusat administrasi dan ekonomi Belitung, dikelilingi oleh bangunan-bangunan kolonial seperti Rumah Tuan Kuase, rumah Kapiten Phang, dan kantor pos tua.
Di depan bangunan jam ini dulu berdiri tugu peringatan penambangan timah yang dibuat pada 28 Juni 1928, sebagai penghormatan atas kontribusi tambang terhadap pembangunan Belitung.
Tugu tersebut kini dipindahkan ke Museum Pemkab Belitung di Tanjungpendam, namun maknanya tetap melekat pada kawasan ini.
Seiring waktu, fungsi Jam Gede sebagai penunjuk waktu mulai tergeser oleh teknologi digital.
Namun, nilai simboliknya justru semakin kuat. Ia menjadi penjaga ingatan kolektif masyarakat Belitung, pengingat akan masa ketika pulau ini menjadi pusat industri timah dunia.
Kini, Jam Gede menjadi bagian dari wacana penataan kawasan kota tua Tanjungpandan, bersama cagar budaya lainnya.
Pemerintah daerah dan komunitas pelestari sejarah mulai merancang strategi pelestarian yang tidak hanya menjaga fisik bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali narasi sejarahnya.
Jam Gede mungkin tak sebesar Jam Gadang di Bukittinggi atau semegah Big Ben di London, namun ia memiliki makna yang tak kalah dalam. Ia merepresentasikan transisi Belitung dari era kolonial ke masa modern, dari pulau tambang ke pulau pariwisata dan budaya.
Bagi warga Tanjungpandan, Jam Gede adalah penanda waktu yang tak pernah benar-benar berhenti. Ia terus berdetak dalam ingatan, dalam cerita-cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan dalam harapan akan masa depan Belitung yang tetap berakar pada sejarahnya.












