
oleh ; Akhlanudin (Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014-2018
Di pesisir timur Pulau Belitung, tersembunyi sebuah desa yang menyimpan jejak panjang sejarah kolonial dan kekayaan budaya yang tak ternilai: Desa Lalang. Berdasarkan Dokumen Pemajuan Kebudayaan Desa (DPKD) tahun 2023, desa ini bukan sekadar permukiman pesisir, melainkan tapak warisan industri, tradisi, dan spiritualitas masyarakat Melayu Belitong.
Dari Pangkalan Tambang ke Desa Budaya
Sejarah Desa Lalang bermula pada pertengahan abad ke-19, ketika Belanda mendirikan distrik tambang Manggar pada tahun 1851. Wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Lalang dulunya disebut “Pangkalan Lalang,” sebagaimana tercatat dalam peta topografi Belanda tahun 1876.
Nama ini kemudian diabadikan sebagai identitas resmi desa, dan melalui Peraturan Desa Lalang Nomor 4 Tahun 2023, tanggal 29 November 1876 ditetapkan sebagai hari jadi Desa Lalang.
Industri timah menjadi denyut nadi ekonomi desa selama masa kolonial. Perusahaan-perusahaan tambang membangun permukiman-permukiman yang kelak menjadi cikal bakal dusun-dusun di Desa Lalang.
Di antara nama-nama dusun yang masih menyimpan jejak sejarah adalah Dusun Sekip—berasal dari kata Belanda “schietbaan” (lapangan tembak)—dan Dusun Ban Motor, yang merujuk pada aktivitas penumpukan ban bekas oleh perusahaan tambang.
Geografi dan Harmoni Multikultur
Dengan luas wilayah mencapai 18.780,22 hektare, Desa Lalang membentang di dataran rendah pesisir yang dihiasi garis pantai panjang dan bukit kecil seperti Bukit Samak. Pantai Nyiur Melambai, Pantai Olivier dan Pantai Keramat menjadi magnet wisata alam yang memperkuat identitas desa sebagai ruang hidup yang indah dan produktif.
Populasi Desa Lalang berjumlah 4.653 jiwa, mayoritas berasal dari suku Melayu Belitong. Namun, harmoni multikultur juga tercermin dari kehadiran komunitas Jawa, Batak, Sunda, dan Bugis yang hidup berdampingan dalam delapan dusun yang sarat makna sejarah dan tradisi.
Warisan Budaya yang Hidup dan Berdenyut
Desa Lalang bukan hanya menyimpan sejarah, tetapi juga merawatnya melalui tradisi dan seni yang terus hidup. Tradisi lisan seperti Ngelasak—kisah jenaka sarat pesan moral—dan Besaer, pembacaan syair Arab-Melayu, menjadi bagian dari identitas naratif masyarakat.
Pertunjukan Antu Bubu, yang menggunakan bubu dan kain kafan sebagai simbol, memperlihatkan kedalaman spiritual dan kreativitas lokal. Adat Makan Bedulang dan Betangas masih dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, memperkuat ikatan sosial dan nilai-nilai tradisional.
Seni hadrah menjadi denyut spiritual dan estetika desa. Hadrah Maindi dan Hadrah Gedungguk bukan sekadar pertunjukan, melainkan ekspresi budaya Melayu Belitong yang diwariskan lintas generasi.
Bahkan, gendang hadrah berusia 150 tahun masih digunakan dalam ritual dan pertunjukan. Sanggar Pinang Gading dan Kembang Simpor turut menjaga dan mengembangkan seni musik dan tari sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan.

Ritual, Pengetahuan Tradisional, dan Cita Rasa Lokal
Dua ritual tahunan, Selamat Laut dan Selamat Kampong, menjadi penanda spiritual masyarakat Desa Lalang. Selamat Laut memohon keselamatan bagi desa, sementara Selamat Kampong mendoakan keberkahan bagi para nelayan.
Pengetahuan tradisional seperti Mace Musim—kemampuan membaca tanda-tanda alam untuk memprediksi cuaca dan musim—menunjukkan kedekatan masyarakat dengan lingkungan.
Teknologi tradisional seperti Sampan dan Ambong (wadah anyaman rotan) masih digunakan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Melalui kuliner khas seperti Lakse, Begero, dan Suto Belitong, masyarakat Desa Lalang menyampaikan cita rasa lokal yang menjadi bagian dari identitas budaya.

Desa Lalang di Panggung Nasional
Pengakuan terhadap kekayaan budaya Desa Lalang semakin kuat ketika desa ini meraih penghargaan “Apresiasi Desa Budaya Tahun 2022” dari Kemendikbudristek RI. Pada tahun 2024,
Desa Lalang menjadi tuan rumah event Apresiasi Desa Budaya dan merayakan hari jadinya yang ke-148 melalui Festival Nepak Belulang, sebuah perayaan budaya yang dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan RI.

Adapun beberapa aktifitas untuk mendapatkan pengalaman EduHistorical (Edukasi, Historis dan Kultural) sekaligus menjadi bagian dalam pelestarian tradisi desa antara lain :
- belajar memainkan dan menggali nilai budaya dari kesenian Hadra Ma’indi
- belajar membuat dan menggali nilai budaya tradisi Berebut Lawang (Berbalas Pantun)
- belajar menari dan menggali nilai budaya seni tari Selamat Datang
- belajar jurus silat dan menggali nilai budaya Silat
- belajar menyanyikan dan menggali nilai budaya Lagu Daerah Belitong
- Napak Tilas Sejarah Kejayaan TImah Belitong
Desa Budaya Lalang bisa dikunjungi sepanjang tahun dan cocok bagi grup kecil keluarga maupun grup edukasi sekolah/komunitas yang ingin merasakan pengalaman belajar baru yang menyenangkan akan anda dapatkan dengan reservasi di Desa Budaya Lalang dan menjadi bagian dalam pelestarian budaya desa.












