Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • Mercusuar Tanjung Lancor: Penjaga Selat, Saksi Sejarah
Inshot 20250928 152704339

Mercusuar Tanjung Lancor: Penjaga Selat, Saksi Sejarah

Oleh : Akhlanudin

Inshot 20250928 151130721

Foto : Vuurtoren op Mendanau

Part of album:
Vuurtorens, lichtboeien en Gouvernementsvaartuigen.


Mercusuar Tanjung Lancor berdiri kokoh di Desa Suak Gual, Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung. Menghadap langsung ke jalur laut strategis ALKI I dan Pulau Piling, mercusuar ini berfungsi sebagai penuntun navigasi kapal yang melintasi perairan sekitar Pulau Mendanau.

Dengan tinggi sekitar 30 meter dan sembilan lantai di dalamnya, bangunan ini masih aktif digunakan hingga kini

Mercusuar ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1883, sebagaimana tertulis pada struktur bangunan: “ZM Willem III 1883”

Nama Willem III merujuk pada Raja Belanda saat itu, menandakan bahwa pembangunan ini merupakan bagian dari proyek maritim kolonial untuk mengamankan jalur pelayaran dan eksploitasi sumber daya di wilayah timur Sumatra.

Foto arsip tahun 1913 berjudul Vuurtoren op Mendanau (Mercusuar di Mendanau) menunjukkan bahwa bangunan ini telah lama menjadi ikon navigasi dan simbol kekuasaan kolonial di perairan Belitung

Foto tersebut berasal dari album C.H. de Goeje, seorang inspektur pengiriman di Batavia, dan kini tersimpan dalam koleksi digital Leiden University Libraries.

Meski belum terdokumentasi secara luas, posisi strategis Tanjung Lancor di jalur pelayaran dan dekat dengan pusat-pusat komunitas nelayan dan pejuang lokal membuka kemungkinan adanya kisah heroik di sekitar mercusuar ini.

Sejarah yang mengisahkan tentang perjuangan masyarakat Selat Nasik yang gugur dalam pertempuran melawan serdadu Belanda.

Melansir dari dispar.belitung.go.id, sejarah mencatat bahwa ditempat ini pernah terjadi pertempuran antara masyarakat Selat Nasik dengan serdadu Belanda yang ingin masuk ke Selat Nasik melalui laut.

Masyarakat Selat Nasik yang gugur dalam pertempuran itu dinyatakan sebagai pejuang dan terpatri namanya di Tugu Perjuangan Masyarakat Selat Nasik atau Mendanau.

Bisa jadi, pada masa pendudukan Jepang atau agresi militer pasca-kemerdekaan, wilayah ini menjadi titik pengamatan, persembunyian, atau pertahanan rakyat.

Penelusuran lebih lanjut terhadap arsip lisan, cerita adat, atau dokumen militer lokal dapat mengungkap peran Tanjung Lancor dalam perjuangan kemerdekaan atau pertahanan maritim Belitung.

Artikel Terkait

Inshot 20251209 171100400

Panas! Jarwok Walkout RDP Polemik…

Intisari Berita BELITUNG — DPRD Kabupaten…

Inshot 20251209 164936134

Penanaman Pohon Energi Di Lahan…

Intisari Berita Dendang Belitung Timur (8/12/2025),-Kawasan…

Inshot 20251209 163925646

20 Orang Tewas dalam Kebakaran…

Intisari Berita Jakarta, Selasa (9/12/2025) –…

Mercusuar Tanjung Lancor: Penjaga Selat, Saksi Sejarah – Media Daulat Rakyat