
BELITUNG, 29 September 2025 — Sekitar 60 peternak mandiri di Kabupaten Belitung yang tergabung dalam Aliansi Peternakan Mandiri menyuarakan keresahan atas dominasi kemitraan skala besar dalam industri perunggasan lokal.
Mereka menilai kehadiran kemitraan tersebut telah menciptakan persaingan tidak sehat, menekan harga jual ayam, dan mengancam kelangsungan usaha peternak kecil.
Ketua Aliansi, Yahya, mengungkapkan bahwa populasi ayam yang dikuasai kemitraan besar telah melampaui 100 ribu ekor, sementara kebutuhan bulanan Belitung hanya sekitar 240–250 ribu ekor.
“Pasar menjadi jenuh, harga jatuh, dan ruang gerak kami semakin sempit,” ujarnya.
Selain dominasi populasi, para peternak juga menyoroti ketimpangan harga. Di Jawa, harga ayam hidup berkisar Rp23.000–Rp24.000/kg, sedangkan di Belitung hanya Rp18.000–Rp20.000/kg.
Padahal, Badan Pangan Nasional menetapkan harga ayam hidup minimal Rp25.000/kg dan ayam bersih maksimal Rp40.000/kg.
“Kami rugi terus. Biaya pakan naik, tapi harga jual tetap rendah,” tambah Yahya.
Aliansi telah melakukan audiensi dengan Dinas Peternakan, Bupati dan Wakil Bupati Belitung, serta Kejaksaan Negeri. Mereka mendesak adanya regulasi populasi, pengawasan harga, dan perlindungan terhadap peternak lokal.
Bahkan, mereka meminta pemerintah berani membatasi atau menutup operasi kemitraan besar jika terbukti merugikan peternakan mandiri.
“Kami tidak anti investasi, tapi harus ada keadilan. Jika peternakan mandiri mati, dampaknya ke ketahanan pangan dan ekonomi lokal,” tegas Yahya.
Aliansi menilai pemerintah daerah selama ini kurang berpihak pada peternak lokal. Mereka berharap ada regulasi yang menjamin keseimbangan antara peternakan mandiri dan kemitraan besar, demi keberlanjutan usaha dan ketahanan pangan masyarakat Belitung












