intisari Berita
- Tahura Bukit Menumbing di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Babel, mengalami kerusakan lingkungan serius akibat penambangan timah ilegal yang dilakukan secara manual maupun dengan mesin tanpa izin.
- Kawasan seluas sekitar 3.354,02 hektare ini memiliki nilai alam, sejarah, dan sebagai habitat satwa dilindungi, namun kini terancam. Pantauan pada 16/12/2025 menunjukkan sebagian area masih asri, tetapi terlihat bekas kerusakan seperti tanah berlubang, sungai keruh, batu bergeser, dan pepohonan tumbang.
Mentok, Bangka Barat — Di balik rimbun pepohonan dan semilir angin sejuk yang masih menyapa pengunjung, Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Menumbing menyimpan luka yang kian dalam. Kawasan konservasi seluas 3.354 hektare di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kini menghadapi ancaman serius: penambangan bijih timah ilegal yang merangsek masuk hingga ke jantung hutan.
Warisan Alam dan Sejarah
Bukit Menumbing bukan sekadar hamparan hijau di ketinggian 400 meter di atas permukaan laut. Ia adalah ruang hidup bagi berbagai satwa liar yang dilindungi, sekaligus saksi sejarah perjuangan bangsa. Di lereng-lerengnya, jejak masa lalu masih terpatri, menjadikan kawasan ini bukan hanya penting secara ekologis, tetapi juga bernilai historis.
Luka di Balik Keindahan
Pantauan lapangan pada Selasa (16/12/2025) menunjukkan kontras yang mencolok. Di satu sisi, suara burung dan desiran angin masih memberi kesan asri. Namun di sisi lain, kerusakan lingkungan tampak nyata: tanah berlubang bekas galian, aliran sungai yang keruh, bebatuan bergeser, hingga pepohonan tumbang yang ditinggalkan begitu saja.
Aktivitas penambangan tanpa izin dilakukan baik secara manual maupun dengan mesin. Lubang-lubang tambang menganga di tengah hutan konservasi, merusak ekosistem yang seharusnya dijaga. Air yang dulunya jernih kini berubah kecokelatan, membawa material tambang yang mencemari aliran sungai.
Ancaman bagi Habitat dan Generasi
Kerusakan ini bukan sekadar hilangnya keindahan lanskap. Ia berarti terancamnya habitat satwa, terganggunya keseimbangan ekosistem, dan hilangnya warisan sejarah yang seharusnya dijaga untuk generasi mendatang.
Tahura Bukit Menumbing, yang membentang di Desa Air Putih, Air Limau, Air Belo, Kelurahan Menjelang, dan Sungai Daeng, kini berada di persimpangan: antara tetap menjadi ruang konservasi atau berubah menjadi kawasan rusak akibat eksploitasi.
Suara yang Perlu Didengar
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas tambang ilegal, suara alam masih berusaha bertahan. Kicauan burung, desir angin, dan rimbun pepohonan seakan menjadi pengingat bahwa hutan ini masih hidup, meski perlahan terkoyak.
Pertanyaannya, sejauh mana masyarakat dan pemerintah berani bertindak untuk menyelamatkan Menumbing? Sebab jika dibiarkan, luka ini bisa menjadi permanen, dan Tahura Bukit Menumbing hanya akan tinggal nama dalam catatan sejarah.












