Intisari Berita:
Bagaimana Revolusi 1979 Menyebabkan Pergolakan Budaya di Iran
Revolusi Iran 1979 mengubah wajah budaya negara tersebut secara drastis, bergeser dari budaya Barat-sekuler yang dianut Shah Pahlavi ke arah Islam Syiah yang konservatif.
Sebelum Revolusi:
Shah melakukan modernisasi melalui Revolusi Putih tahun 1963, antara lain dengan reformasi agraria, industrialisasi, peningkatan akses pendidikan, dan pemberian hak-hak kepada perempuan. Namun, kebijakan sekular ini menentang pengaruh ulama dan menyebabkan ketegangan sosial, dengan Ayatollah Khomeini sebagai tokoh oposisi yang menganggap Barat sebagai ancaman bagi budaya dan agama Iran.
Pasca-Revolusi:
Republik Islam Iran didirikan sebagai rezim teokratis dengan hukum Syariah sebagai dasar. Semua reformasi Shah dicabut, universitas dibersihkan dari ideologi Barat, organisasi lain dilarang, dan aturan ketat diberlakukan—termasuk pembatasan hak perempuan dan minoritas, serta aturan berpakaian Islami. Pelanggaran hak asasi manusia terjadi secara luas, seperti penindasan lawan politik, pembatasan hak perempuan, dan hukuman berat terhadap homoseksualitas.
Saat Ini:
Meskipun pembangunan manusia meningkat, generasi muda Iran merasa terbatas oleh pembatasan budaya. Protes telah muncul, seperti gerakan perempuan tahun 2022, dan kini banyak perempuan di kota-kota besar tidak mengenakan hijab tanpa dihukum, meskipun masa depan perubahan masih tidak jelas. Pergeseran budaya akibat revolusi kini menjadi sumber keresahan sosial yang menuntut perubahan.
Jakarta – Iran memiliki sejarah budaya yang kaya dengan akar di kekaisaran kuno seperti Raja-raja Persia, Khalifah Abbasiyah, dan Kaisar Safawi. Identitasnya terus berubah sepanjang zaman modern, dengan pengaruh dari berbagai budaya dan agama seperti Zoroastrianisme dan Islam. Namun, tidak ada konflik budaya yang lebih berpengaruh daripada Revolusi 1979, yang menyebabkan pergolakan budaya yang menguntungkan Islam Syiah dan menentang budaya Barat yang sebelumnya dianut oleh Shah.
Budaya di Iran Sebelum Revolusi 1979
Shah Pahlavi terakhir dilantik melalui kudeta Inggris pada tahun 1953, menandai awal pengaruh Barat di Iran. Di bawah pemerintahannya, Iran bergerak menuju sekularisasi dan modernisasi melalui Revolusi Putih yang dimulai pada tahun 1963. Reformasi yang dilakukan meliputi:
- Distribusi ulang lahan melalui reformasi agraria
- Fokus pada industrialisasi dan pembangunan infrastruktur
- Peningkatan akses pendidikan dengan kenaikan pendaftaran universitas
- Pemberian hak pilih dan kesempatan pendidikan tinggi serta pekerjaan bagi perempuan
Namun, dorongan modernisme ini bertujuan untuk mengonsolidasikan kekuasaan Shah dan menyingkirkan pengaruh ulama. Elite agama, terutama ulama dan Muslim Syiah yang ketat, menentang kebijakan sekuler tersebut. Ayatollah Ruhollah Khomeini menjadi tokoh oposisi utama yang menganggap Amerika Serikat dan sekutunya sebagai ancaman bagi budaya, sejarah, dan agama Iran. Kaum kiri, nasionalis, dan Muslim bersatu melawan Shah, yang mengakibatkan kejatuhan rezimnya.
(Demonstrasi Asura di Lapangan Kebebasan, Teheran, selama revolusi Iran tahun 1979. Sumber: Wikipedia)
Budaya Iran Pasca-Revolusi
Setelah revolusi, Khomeini membangun Republik Islam Iran sebagai rezim teokratis yang diatur sesuai hukum Syariah. Ia menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi dan membentuk Dewan Penjaga yang memiliki wewenang akhir atas semua aspek budaya. Beberapa perubahan utama yang terjadi:
- Semua reformasi Revolusi Putih dicabut
- Universitas dibersihkan dari studi yang berkaitan dengan ideologi Barat
- Organisasi politik dan budaya lain dilarang
- Perempuan dan minoritas agama seperti Bahá’í mengalami pembatasan hak dan penghapusan dari posisi kekuasaan
- Aturan berpakaian ketat diberlakukan: pria dilarang mengenakan dasi dan mencukur janggut, perempuan wajib mengenakan penutup kepala bahkan chador
- Syariah diterapkan dalam hal perkawinan dan perceraian, termasuk penurunan usia menikah perempuan menjadi 9 tahun
Hak Asasi Manusia setelah Revolusi Iran
Rezim teokratis Khomeini melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia, antara lain:
- Penindasan terhadap lawan politik melalui Pengadilan Revolusi Islam dan Garda Revolusi, dengan penangkapan, penyiksaan, dan eksekusi. Menurut Amnesty International, setidaknya 4.000 orang dieksekusi pada tahun-tahun setelah revolusi.
- Pembatasan hak perempuan yang meliputi hilangnya hak pilih, larangan mengikuti sebagian mata kuliah, dan pembatasan kerja. Pelanggaran aturan berpakaian dapat dikenai hukuman cambuk.
- Hukuman berat terhadap homoseksualitas, termasuk hukuman mati berdasarkan Kode Pidana Iran.
- Sensor, kontrol media oleh negara, dan larangan kebebasan berbicara bagi mereka yang menentang pemerintah.
Pergeseran Budaya dari Iran Pasca-Revolusi hingga Saat Ini
Meskipun tingkat pembangunan manusia Iran meningkat (melek huruf, pendidikan, kesehatan, dan harapan hidup meningkat), hal ini dibayangi oleh penindasan pemerintah. Masyarakat Iran mengalami disparitas nilai antara struktur pemerintahan dan aspirasi generasi muda, yang melihat pembatasan budaya sebagai penghalang bagi kebebasan mereka.
Protes signifikan muncul dalam dua dekade terakhir, seperti gerakan perempuan pada musim gugur 2022 yang mengakibatkan sekitar 19.000 orang ditangkap dan setidaknya 500 orang tewas. Saat ini, banyak perempuan di kota-kota besar seperti Teheran tidak lagi mengenakan hijab tanpa dihukum, yang menjadi pertanda kemungkinan pelonggaran pembatasan sosial, meskipun kurangnya transparansi pemerintah membuat masa depan perubahan ini tidak jelas.
Dampak budaya revolusi bersifat reaksioner terhadap westernisasi Shah, namun pemaksaan budaya telah memicu keresahan sosial yang kini menuntut perubahan pada rezim teokratis.
Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel dan Google News. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.












