MEDIA DAULAT RAKYAT Pangkalpinang – Hidayat Arsani adalah pengusaha sekaligus politikus asal Pangkalpinang yang kini menjabat sebagai Gubernur Kepulauan Bangka Belitung periode 2025–2030. Kisah hidupnya dari dibuang saat bayi hingga menjadi gubernur membuatnya dikenal sebagai sosok inspiratif di Babel.
Kehidupan Awal
Hidayat Arsani lahir pada 21 Agustus 1963 di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Ia keturunan Tionghoa dan beragama Islam. Saat masih bayi ia ditinggalkan oleh orang tua kandungnya, kemudian diadopsi oleh pasangan Arsani dan Muhaya.
Untuk pendidikan, ia lulus dari SMEA Negeri Pangkalpinang pada 1984 dan meraih gelar Sarjana Ekonomi dari STIE IBEK Pangkalpinang pada 2015.
Karier Bisnis: Membangun Arsani Group
Hidayat memulai usaha dari nol dan membangun Arsani Group menjadi salah satu konglomerasi besar di Babel. Bidang usahanya meliputi budidaya udang, pertambangan timah, rumah sakit, sekolah, dan perkebunan aren.
Pada 2003 ia juga mendirikan surat kabar harian Rakyat Pos.
Ia pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Timah Indonesia dan Ketua PWI Cabang Babel. Tahun 2012, ia menerima penghargaan dari Gubernur Eko Maulana Ali atas kontribusinya bagi pembangunan daerah.
Karier Politik
Perjalanan politiknya dimulai saat menjabat Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung periode 2014–2017 mendampingi Rustam Effendi.
Pada Pilgub 2017, ia maju sebagai calon gubernur dan meraih 105.567 suara atau 19,26%, menempati posisi ketiga.
Di Pilgub 2024, ia kembali maju berpasangan dengan Hellyana dari PPP dan berhasil menang dengan 299.591 suara atau 50,77%. Ia mengalahkan petahana Erzaldi Rosman Djohan.
Pada 17 April 2025, Hidayat Arsani dilantik sebagai Gubernur Kepulauan Bangka Belitung ke-5 untuk periode 2025–2030.
Kehidupan Pribadi
Ia menikah dengan Ni Komang Widari dan dikaruniai 7 orang anak: Hendra Erwanto, Harry Ardianto, Hary Iswanto, Handy Hidayat, Hery Wijaya, Haikal Zulpikar, dan M. Habibi.
Catatan Penting
Hidayat Arsani dikenal sebagai gubernur Muslim Tionghoa pertama di Indonesia. Kisah hidupnya dari masa kecil penuh keterbatasan hingga menjadi pengusaha dan pemimpin daerah sering dijadikan inspirasi.
Dalam kepemimpinannya, ia vokal menyoroti isu tata kelola timah, ekonomi kerakyatan, dan kesejahteraan penambang di Babel.












