Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • Kekeringan Bayangi Babel, HTH 60 Hari dan Sumber Air Baku PDAM Menyusut Drastis
InShot 20260904

Kekeringan Bayangi Babel, HTH 60 Hari dan Sumber Air Baku PDAM Menyusut Drastis

MEDIA DAULAT RAKYAT PANGKALPINANG, 4 September 2026* – Kekeringan masih membayangi Bangka Belitung hingga awal September 2026. Data BMKG menunjukkan sebagian besar wilayah Babel sudah mengalami hari tanpa hujan /HTH/ 31–60 hari, bahkan ada yang masuk kategori ekstrem lebih dari 60 hari.

Akibatnya, sumber air baku PDAM dan kolong milik masyarakat menyusut drastis. Peluang hujan ke depan pun hanya bersifat lokal dan tidak merata.

Kondisi Terkini

  1. Air baku menipis
    Kolong dan sumber air baku PDAM di berbagai wilayah Babel mengalami penyusutan tajam.
  2. Curah hujan sangat rendah
    BMKG Babel mencatat curah hujan pada dasarian III Agustus 2026 hanya 0–10 mm per dasarian, jauh di bawah normal.
  3. Wilayah paling kering
    Kecamatan Sungai Selan dan Parit Tiga jadi titik terparah dengan curah hujan hanya 10–20 mm per dasarian.
  4. Hari Tanpa Hujan Ekstrem
    Sebagian besar wilayah Babel sudah melewati 31–60 hari tanpa hujan. Beberapa titik bahkan >60 hari

Tsabit Aqdam, Prakirawan BMKG Babel menjelaskan prospek hujan ke depan:

“Potensi hujan bersifat lokal tetap ada dan tidak merata.”

BMKG Babel menambahkan:

“Kalau potensi hujan dalam satu sampai dua minggu ke depan tetap ada peluang hujan lokal di Babel, terutama di Pulau Bangka bagian barat.”

Dampak Sosial di Lapangan

  1. Kampung Laut, Tanjungpandan
    Warga terpaksa mengambil air bersih dari bantuan PMI Belitung pada 31 Agustus 2026.
  2. Sholat Istisqa’ di Bangka Tengah
    Ratusan jemaah menggelar sholat minta hujan pada 2 September 2026.
  3. PDAM Mentok kritis
    Kolong Agro Tirto mengering hingga 90%. Penyedotan air hanya bisa dilakukan 2 jam per hari.
    Debit air dari Bukit Menumbing turun drastis dari 15–20 liter/detik menjadi hanya 0,8 liter/detik.

Analisis Singkat
Kekeringan Babel 2026 diprediksi lebih parah dibanding tahun sebelumnya. Periode kering datang lebih cepat sejak pertengahan Agustus dan BMKG memperkirakan akan bertahan hingga awal 2027.

Risiko utama yang dihadapi:

  • Krisis air bersih bagi masyarakat dan pelanggan PDAM
  • Beban ekonomi naik, warga harus membeli air Rp50 ribu–Rp100 ribu per tangki
  • Potensi gangguan kesehatan akibat keterbatasan air bersih dan sanitasi

Pemerintah daerah dan PDAM diminta segera memperkuat distribusi air, mempercepat pengeboran sumur dalam, serta menggalakkan konservasi kolong agar krisis tidak semakin meluas.

Artikel Terkait

InShot 20260916

Wakil Gubernur Babel Hellyana Bebas…

MEDIA DAULAT RAKYAT PANGKALPINANG, 16 September…

InShot 20260916

Sidak Wabup Beltim: Pertalite Eceran…

MEDIA DAULAT RAKYAT NNGGAR, 16 September…

InShot 20260916

Tumpang Tindih IUP Timah Hambat…

MEDIA DAULAT RAKYAT PANGKALPINANG, 16 September…