MEDIA DAULAT RAKYAT JAKARTA, 30 September 2026 – Nilai tukar rupiah resmi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Selasa, 29 September 2026. Pelemahan ini menjadi yang terparah sejak krisis 2007 dan memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik dan global.
Berdasarkan data Bloomberg pada 29 September 2026 pukul 11.55 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp18.013 per dolar AS. Rupiah melemah sekitar 0,23% dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya.
Pelemahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada kombinasi faktor eksternal dan domestik yang mendorong rupiah tertekan hingga menembus level psikologis tersebut.
Faktor Eksternal Jadi Pemicu Utama
Bank Indonesia menjelaskan, tekanan utama berasal dari gejolak global. Pertama, harga minyak dunia yang melambung tinggi hingga menembus USD108 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang menghambat pasokan minyak global.
Kedua, yield atau imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun naik ke level 5,23%, tertinggi sejak 2007. Kenaikan ini membuat investor global menarik dananya dari negara berkembang termasuk Indonesia dan memindahkannya ke aset dolar AS yang lebih aman.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan hal tersebut.
“Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas USD108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz,” kata Erwin.
Ia menambahkan faktor domestik juga turut memberi tekanan.
“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” ujarnya.
Kebutuhan dolar dari para importir yang meningkat menjelang tutup triwulan III membuat permintaan valas melonjak. Ditambah arus keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi Indonesia.
Respons Bank Indonesia: Intervensi Tiga Lapis
Menanggapi pelemahan rupiah, Bank Indonesia menegaskan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas.
BI menyiapkan tiga strategi intervensi. Pertama, intervensi di pasar valas spot. Kedua, melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Ketiga, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga kepercayaan investor.
Selain itu, BI juga memperkuat strategi moneter yang pro-market agar mekanisme pasar tetap berjalan baik dan tidak menimbulkan kepanikan.
Untuk menopang stabilisasi, BI masih memiliki bantalan cadangan devisa yang cukup kuat, yakni sebesar USD146,5 miliar per Agustus 2026.
Pengamat ekonomi menilai level Rp18.000 adalah ujian psikologis. Jika tidak dijaga, pelemahan bisa berdampak pada kenaikan harga barang impor, termasuk bahan baku industri dan potensi penyesuaian harga BBM non-subsidi.
Pemerintah dan BI mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap tenang. Koordinasi antara BI, Kementerian Keuangan, dan OJK terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi makro di tengah gejolak global yang masih tinggi.












