Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • Kilas Balik dari Yogyakarta: Sebuah Cerita tentang Pilihan dan Kemerdekaan
Img 20250712 063406

Kilas Balik dari Yogyakarta: Sebuah Cerita tentang Pilihan dan Kemerdekaan

Img 20250712 140134

Oleh : Sudharma Yuda*)

Semalam, dari candaan ringan yang meluncur begitu saja, tanpa sengaja kami merumuskan sebuah definisi kecil yang terasa begitu dalam: bahwa hidup yang merdeka adalah hidup yang dipenuhi pilihan. Bukan sekadar kebebasan fisik, tapi ruang batin yang lapang untuk memilih jalan, rasa, makna.

Dan bicara soal tempat yang mewujudkan definisi itu secara nyata—Yogyakarta adalah salah satu kota di Indonesia yang paling fasih “memerdekakan” siapa pun yang menjejak di sana. Kota ini tak hanya menyambut, tapi juga membiarkan setiap orang merasa utuh dengan segala pilihannya.

Seorang sahabat dari Belitong pernah melontarkan kalimat yang melekat di benak:
“Mun di sanak to, makan nok ape jak ade. Dari nok murah, sedang, mahal, mewah… nyaman semue.”
Yang ia maksud tentu Yogyakarta—kota yang tak membeda-bedakan, kota yang menawarkan segala rupa dengan keramahan yang menyatukan.

Dari segi kuliner, Yogya bukan sekadar surga rasa, tapi juga surga suasana. Makanannya tak hanya menggoyang lidah, tetapi juga menghangatkan hati. Di angkringan yang sederhana, di restoran yang penuh nostalgia, di tempat makan modern nan estetik—semua punya tempat bagi siapa saja.

Destinasi wisatanya pun sama luasnya dengan imajinasi. Ada wisata sejarah yang mengajak kita merenung, seni budaya yang menghidupkan tradisi, edukasi yang menggelitik rasa ingin tahu, hingga agrowisata yang membumikan alam. Bahkan, ada pula satu bentuk wisata yang unik: menyaksikan orang berwisata—nongkrong bersama di Malioboro, larut malam di alun-alun, menyerap energi kota yang tak pernah kehilangan semangatnya.

Yogyakarta adalah kanvas penuh warna. Corak kehidupan, gaya bersikap, cara bersapa—semuanya berbeda, tapi harmoni selalu hadir. Inilah yang membuat Yogya tak hanya menjadi tujuan, tapi juga tempat untuk kembali. Karena kenangannya bukan sekadar dalam foto, tapi membekas di hati.

Kami bersyukur, salah seorang sahabat kami, Bro Donny, kini menetap di Yogyakarta bersama keluarga. Di sana, ia benar-benar hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan. Ia menikmati setiap detik dari “kemerdekaan” yang nyata, di negeri yang memang merdeka, di kota yang memberi ruang untuk hidup seutuhnya.

Aura positif dari hidup yang damai itu selalu terpancar ketika ia menyambut kami. Seperti yang pernah diucapkan oleh Bang Yanto,
“Dak main-main oi, protokol Yogya…”
Ungkapan yang tak cuma menggambarkan keramahan, tapi juga kesungguhan dari hati yang tulus.

Selamat pagi, sahabat-sahabat terbaik.
Selamat menjalani akhir pekan dengan penuh pilihan, penuh rasa, dan semoga selalu penuh bahagia.

Salam hangat dari Yogya—tempat di mana kemerdekaan dan kerinduan bertemu dalam satu napas kehidupan.

  • ) Penulis musisi dan budayawan Belitung

Artikel Terkait

File 00000000b12c720897810538ad36cecb

Antrean BBM di Babel Mengular,…

MEDIA DAULAT RAKYAT– Antrean panjang kendaraan…

InShot 20260717

Bupati Djoni Alamsyah Ajak Peserta…

​MEDIA DAULAT RAKYAT TANJUNG PANDAN —…