
MINYAK SUBSIDI YANG PELIK
Katanya BBM langka.
Katanya lagi.
Katanya pejabat.
“Ini karena penyalahgunaan barcode.”
“Pengisian berulang-ulang dengan plat nomor berbeda.”
“Ada oknum yang nimbun.”
Kalimatnya rapi.
Dibaca di Media Sosial
Diketik di berita.
Tapi di lapangan?
Di SPBU Desa Padang,
di Pasar Lipat Kajang,
di warkop tempat penambang duduk,
Yang ada cuma antrean.
Yang ada cuma rakyat
Berhan jam di bawah matahari
demi 3 ribu selisih.
Ini minyak subsidi untuk rakyat.
Stikernya besar di pom.
“Hak Rakyat.”
Huruf merah di atas harga 10 ribu.
Tapi mengapa jadi pelik?
Mengapa yang subsidi habis di jalan,
sedangkan yang subsidi
berdiri berjam-jam di bahu jalan?
Mengapa barcode bisa diakali,
tapi perut rakyat tidak?
Mengapa plat nomor bisa gonta-ganti,
tapi gaji satpam tetap?
Mengapa ada oknum yang nimbun,
sementara ibu di pasar
nimbun cabai setengah kilo
karena takut besok naik lagi?
Minyak ini dari bumi kita.
Disedot dari tanah ,, Pertiwi
Dikilangkan jauh.
Dikembalikan ke kita…
dengan antrean,
dengan aturan,
dengan alasan.
Rakyat hanya minta satu:
Isi penuh.
Harga wajar.
Tidak perlu drama.
Tidak perlu rapat.
Tapi hari ini,
yang penuh cuma antrean.
Yang wajar cuma sabar.
Yang subsidi…
entah di mana.
Ini epik.
Epik tentang minyak yang langka
di negeri yang mengapung di atasnya.
Epik tentang rakyat
yang disuruh hemat waktu
sambil membuang waktu
untuk mendapatkan hak.
Jakarta 15 Juli 2026
Akhlanudin












