Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Mengantar Harapan di Gerbang Sekolah: Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama
Img 20250714 185321

Mengantar Harapan di Gerbang Sekolah: Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama

Img 20250714 185321

Di pagi yang masih berembun, halaman sekolah dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Di antara kerumunan, tampak para ayah menggandeng tangan kecil anak-anak mereka, menatap gerbang sekolah dengan campuran bangga dan gugup. Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah, yang digagas oleh Kemendikbudristek dan BKKBN, bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah simbol perubahan budaya pengasuhan di Indonesia—dari yang semula berpusat pada ibu, menjadi lebih kolaboratif dan setara.

Momen Kecil, Dampak Besar

“Melalui kehadiran ayah pada momen penting tersebut akan tercipta kedekatan emosional yang berpengaruh positif terhadap rasa percaya diri, kenyamanan, dan kesiapan anak dalam menjalani proses belajar,” ujar Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Wihaji

Pernyataan ini menegaskan bahwa kehadiran ayah bukan hanya penting secara simbolik, tetapi juga berdampak nyata pada perkembangan psikologis anak.

Irwan, seorang ayah dari Cikampek, berbagi pengalamannya: “Biasanya saya cuma tahu anak saya masuk kelas, pulang, dan saya tanya ‘gimana sekolahnya?’ Sekarang saya tahu seperti apa suasananya, saya bisa lihat ekspresi dia saat berpisah.” Cerita seperti ini menjadi bukti bahwa kehadiran ayah di hari pertama sekolah mampu membangun ikatan emosional yang lebih dalam.

Menjawab Fenomena Fatherless

Gerakan ini juga menjadi respons terhadap tingginya angka fatherless di Indonesia. Menurut Wihaji, “Salah satu yang menjadi problem adalah 20,9 persen anak-anak remaja kehilangan sosok ayah atau disebut fatherless. Kehadiran orangtua, khususnya ayah, dalam teori leadership itu penting karena dapat membentuk karakter anak”

Data ini menunjukkan urgensi gerakan ini sebagai intervensi sosial yang strategis.

Menggeser Paradigma Gender dalam Pengasuhan

Selama bertahun-tahun, pengasuhan anak identik dengan peran ibu. Ayah lebih sering dianggap sebagai pencari nafkah. Namun, seperti yang ditulis dalam artikel Kumparan, “Ayah bukan sekadar pencari nafkah, tetapi juga sosok penting dalam pembentukan karakter, rasa aman, dan kepercayaan diri anak”

Kehadiran ayah secara fisik dan emosional sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak.

Gerakan ini mengajak masyarakat untuk mendekonstruksi stigma lama dan membangun keluarga yang setara. Ayah dan ibu adalah mitra dalam pengasuhan, bukan dua kutub yang terpisah.

Investasi Sosial Menuju Indonesia Emas

Di balik momen sederhana ini, tersimpan visi besar: membentuk generasi masa depan yang tangguh secara akademik dan emosional. “Melalui peran-peran itu, ayah dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan anak dan membantu menciptakan generasi kuat, berdaya, dan berkarakter,” tutup Wihaji dalam peluncuran Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI)

Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah bukan hanya tradisi baru, tetapi manifestasi harapan. Harapan bahwa setiap anak, di gerbang sekolahnya, akan melihat ke belakang dan mendapati ayahnya berdiri di sana—bukan sekadar pengantar, tetapi sebagai teladan, pelindung, dan sahabat sepanjang perjalanan hidupnya.

Artikel Terkait

InShot 20260512

Puisi-puisi Edy Sukardi

… tak hanyut Simpan resahmurekam mimpimukenang…

InShot 20260511

Puisi Puisi Edy Sukardi

Aku merasa terpanggil Kita telah sampaidi…

InShot 20260509

Puisi Puisi Edy Sukardi

Aku ingin engkau tetap muda Perjalanan…