
Oleh : Akhlanudin
Manggar, Belitung Timur — Di pesisir utara Bukit Samak, berdiri sisa-sisa dermaga tua yang pernah menjadi pusat energi industri tambang timah.
Kawasan lebih populer dengan nama Olivier—sebuah pelabuhan minyak yang dibangun oleh perusahaan Belanda NV Billiton Maatschappij pada tahun 1925.
Olivier terletak di Desa Lalang, Kecamatan Manggar, tepat di bawah Bukit Samak yang dahulu menjadi pusat pemukiman elite kolonial.
Dermaga sepanjang ±114 meter menjorok ke laut, menjadi tempat bersandar kapal tanker minyak yang oleh masyarakat disebut kapal minyak. Kawasan ini menjadi jantung logistik tambang timah Manggar selama lebih dari lima dekade.
“Olivier adalah pintu masuk energi. Tanpa pelabuhan ini, operasional tambang tidak akan berjalan,” ujar Abu Hanafiah, tokoh budaya Belitung Timur.
Asal-Usul Nama “Olivier”
Nama “Olivier” menyimpan makna yang unik, dengan dua versi penafsiran yang berkembang di kalangan teknisi dan masyarakat lokal:
| Versi | Penjelasan | Makna Lokal |
|---|---|---|
| Teknis (Belanda) | Olie = minyak + Pier = dermaga → Olivier | Pelabuhan minyak |
| Lokal (Manggar) | Olie = minyak + Vier = empat → Olivier | Merujuk pada empat tangki minyak besar yang dulu mendominasi kawasan |
“Empat tangki itu jadi penanda. Kalau orang bilang ‘ke Olivier’, ya maksudnya ke tempat tangki minyak itu,” jelas seorang warga Manggar.
Selain itu, nama “Olivier” juga memiliki akar dari bahasa Latin dan Perancis, yang berarti pohon zaitun (olive tree)—simbol ketahanan, kemakmuran, dan harapan. Nama ini mencerminkan filosofi modernisasi kolonial yang dibawa ke Belitung Timur pada awal abad ke-20.
Pusat Energi Tambang Timah
Olivier dilengkapi dengan 17 tangki minyak, termasuk:
- 2 tangki kapasitas 6.000 ton untuk IDO kotor
- 2 tangki kapasitas 5.000 ton untuk IDO bersih
Minyak yang ditampung digunakan untuk:
- Pembangkit listrik tenaga diesel (EC)
- Kapal keruk tambang
- Kendaraan operasional tambang
Pelabuhan ini menjadi titik vital dalam rantai pasok energi tambang, menghubungkan Manggar dengan kapal-kapal pengangkut dari luar daerah.
Krisis dan Penutupan
Kejayaan Olivier mulai meredup pada akhir 1980-an, saat harga timah dunia anjlok. Puncaknya terjadi pada tahun 1997 ketika PT Timah mengalami krisis finansial dan menjual seluruh aset di Olivier. Tangki-tangki minyak yang dulu menjadi simbol kemajuan industri kini terbengkalai, dan dermaga yang dulu sibuk kini hanya menjadi saksi bisu sejarah.
“Olivier bukan hanya pelabuhan, tapi bagian dari identitas Manggar sebagai kota tambang. Sayangnya, warisan ini belum sepenuhnya diangkat kembali,” tambah Abu Hanafiah.
Warisan yang Terlupakan
Olivier menyimpan nilai historis yang besar:
- Simbol modernisasi kolonial dan eksploitasi sumber daya
- Titik transformasi sosial-ekonomi masyarakat Manggar
- Bagian dari pusat peradaban Eropa di Belitung Timur
Kini, Olivier menjadi situs sejarah terbuka, namun belum sepenuhnya dilestarikan atau dimanfaatkan sebagai destinasi edukatif. Nama “Olivier” yang berarti pohon zaitun seolah menjadi ironi: lambang ketahanan yang kini terabaikan.
Catatan Redaksi:
Laporan ini merupakan bagian dari seri “Jejak Timah Belitung”, yang menelusuri situs-situs bersejarah industri tambang di Pulau Belitung. Narasi disusun berdasarkan arsip perusahaan tambang, wawancara tokoh budaya, dan dokumentasi komunitas lokal.












