
Bukit Samak bukan sekadar bukit—ia adalah titik balik sejarah Kota Manggar dan simbol kemajuan industri serta peradaban modern di Pulau Belitong.
Pada tahun 1916, pemerintah kolonial Belanda secara resmi memindahkan pusat Kota Manggar ke Bukit Samak, menjadikannya jantung kehidupan sosial, ekonomi, dan teknologi di wilayah timur pulau.
Kota Terang di Timur Belitong
Pada masa itu, Bukit Samak dikenal sebagai tempat paling terang di Belitong Timur. Penerangan listrik yang stabil menjadikannya kawasan elit dan modern, jauh melampaui daerah-daerah lain di sekitarnya. Di sinilah peradaban Eropa berakar kuat, membentuk sistem kota yang terintegrasi dan maju.
Apa Saja yang Ada di Bukit Samak?
Bukit Samak dirancang sebagai kota mandiri dengan berbagai pusat aktivitas yang menunjang kehidupan masyarakat dan industri tambang:
| Fungsi | Nama & Keterangan |
|---|---|
| Pusat Kelistrikan | EC (Electrische Centrale) – pembangkit listrik utama |
| Pusat Perkantoran | NVGMB – kantor pusat perusahaan tambang Belanda |
| Pusat Hiburan | Wisma Ria – tempat pertunjukan dan rekreasi |
| Pusat Kesehatan | Rumah Sakit – fasilitas medis modern |
| Pusat Pendidikan* | AC (Ambacht Cuursus) – kursus keterampilan; Sekolah Rakyat |
| Pusat Perumahan Elit | Kompleks A1, A2, dst – hunian pegawai tinggi |
| Pusat Olahraga | Lapangan tenis, basket, golf, arena bowling, dan swembat/salembat |
| Pusat Keagamaan | Gereja Katolik dan Masjid Jamik Lalang |
| Pusat Pelabuhan | Dermaga Oliepier – dermaga utama untuk logistik dan ekspor |
| Pusat Transportasi | Trem tenaga uap – sistem transportasi internal |
Dari Kolonial ke Nasional: Perubahan Pasca Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, seluruh aset Bukit Samak diserahkan kepada perusahaan timah milik negara. Kawasan ini tetap berfungsi sebagai pusat operasional hingga krisis harga timah global memaksa perusahaan memindahkan aktivitas ke Pulau Bangka. Bukit Samak pun perlahan ditinggalkan.
Warisan yang Terlupakan
Kini, banyak bangunan peninggalan masih berdiri, meski sebagian besar rusak akibat penjarahan dan kurangnya perawatan. Namun, jejak kejayaan masa lalu tetap terasa—dalam struktur bangunan, tata kota, dan cerita masyarakat yang masih mengingat Bukit Samak sebagai pusat peradaban modern pertama di Belitong Timur.












