Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • Jeramba Berdarah: Menguak Jejak Pertempuran Aik Seruk di Belitung
Inshot 20250806 012758253

Jeramba Berdarah: Menguak Jejak Pertempuran Aik Seruk di Belitung

Inshot 20250806 012404023

Oleh: Akhlanudin

Tepat 80 tahun lalu, di sebuah jeramba kecil yang membelah aliran Sungai Seruk, sejarah Belitung ditulis dengan darah. Di sinilah, pada 25 November 1945, sekelompok pemuda desa bersenjata bambu runcing dan tekad merdeka menghadang pasukan Belanda yang berusaha merebut kembali pulau ini.

Pertempuran Aik Seruk bukan hanya soal peluru dan strategi, tapi tentang keberanian rakyat biasa yang menolak tunduk.

Jeramba Aik Seruk, yang kini menjadi jalur penghubung antar kampung, dulunya adalah titik strategis. Menurut penuturan warga setempat, pasukan Belanda bergerak dari arah Tanjungpandan menuju Sijuk, menyisir wilayah yang dianggap rawan perlawanan.

Di sinilah Lettu Mad Daud, pemuda asal Belitung yang bergabung dengan laskar rakyat, memimpin barisan pertahanan.

“Mad Daud bukan tentara resmi, tapi dia punya jiwa komando,” ujar H. Sulaiman, cucu salah satu pejuang yang selamat. “Dia tahu medan, tahu rakyat, dan tahu bahwa kemerdekaan harus dibayar mahal.”

Salah satu nama yang terus disebut dalam kisah ini adalah Mahidin Tedong, pemuda yang dikenal pendiam namun berani. Menurut arsip lisan keluarga, Mahidin sempat berpamitan kepada ibunya sehari sebelum pertempuran.

“Kalau besok saya tak pulang, jangan menangis. Kita harus merdeka, Bu.”
— Mahidin Tedong, 24 November 1945

Mahidin gugur di jeramba, tubuhnya ditemukan dengan luka tembak di dada. Ia kemudian dibawa oleh pasukan Belanda ke Tanjungpandan, bersama jenazah dua pejuang lainnya, sebagai bentuk intimidasi terhadap warga.

Kini, di lokasi pertempuran berdiri Tugu Pahlawan Aik Seruk, dengan relief bambu runcing dan wajah-wajah pejuang terpahat di dindingnya.

Setiap 25 November, masyarakat menggelar upacara dan pentas drama yang menghidupkan kembali semangat perjuangan.

Sanggar Jeramba, komunitas seni lokal, rutin mementaskan lakon “Jeramba Berdarah” yang mengisahkan detik-detik pertempuran. “Kami ingin generasi muda tahu bahwa kemerdekaan bukan hadiah, tapi warisan darah,” kata Rika Andayani, sutradara pentas.

Pertempuran Aik Seruk bukan peristiwa besar dalam buku sejarah nasional. Tapi bagi Belitung, ia adalah simbol bahwa kemerdekaan lahir dari keberanian rakyat kecil.

Jeramba itu kini menjadi saksi bisu, tempat di mana air mengalir membawa cerita tentang mereka yang memilih mati demi merdeka.

Artikel Terkait

InShot 20260603

Kasus Korupsi Program MBG: Eks…

JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan…

InShot 20260603

Antrean Panjang di SPBU Perawas…

BELITUNG – Warga sekitar mengeluhkan antrean…

InShot 20260603

Puisi Puisi Edy Sukardi

Ada campur tangan Dia ESu Engkau…