Jakarta – Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat lebih dari 22 ribu anak di Jakarta Utara (Jakut) tidak bersekolah. Kondisi ini memicu keprihatinan berbagai pihak, termasuk Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Justin Adrian Untayana.
Justin mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera mengambil langkah nyata. Menurutnya, jika anak-anak tidak memperoleh pendidikan yang semestinya, mereka akan kesulitan mendapatkan pekerjaan di masa depan. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah sosial dan ekonomi yang lebih besar.
Ancaman Jika Tidak Ditangani
- Anak-anak berisiko kehilangan kesempatan kerja.
- Potensi meningkatnya masalah sosial, seperti pengangguran dan kriminalitas.
- Beban ekonomi masyarakat dan pemerintah bisa semakin berat.
Solusi yang Didorong PSI
Justin menilai salah satu solusi adalah program sekolah swasta gratis yang digagas Pemprov DKI Jakarta.
- Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah mengumumkan akan ada 103 sekolah swasta gratis dengan anggaran mencapai Rp 253,6 miliar.
- Di Jakarta Utara, akan tersedia 20 sekolah swasta gratis.
- Justin menekankan pentingnya pengawasan ketat agar anggaran tidak disalahgunakan, serta mencegah praktik pungli dan diskriminasi.
“Besar harapannya lebih banyak lagi anak di Jakarta yang bisa masuk sekolah. Asalkan pelaksanaannya dilakukan dengan baik dan pengawasannya ketat,” ujar Justin.
Peran Orang Tua dan Masyarakat
Justin menegaskan, keberhasilan program sekolah swasta gratis tidak hanya bergantung pada pemerintah.
- Orang tua harus aktif memastikan anak-anaknya masuk sekolah.
- Harus ada kerja sama antara guru dan keluarga agar pendidikan berkesinambungan.
- Faktor sosial dan budaya, seperti anak yang bolos dan dibiarkan oleh orang tua, juga harus diatasi.
“Masalah pendidikan di Jakarta tidak hanya terjadi di ruang lingkup sekolah. Terkadang faktor sosial dan budaya juga berpengaruh,” kata Justin.
Ia menambahkan, pendidikan di sekolah harus sejalan dengan pendidikan di rumah. Jika tidak, anak-anak tetap berisiko putus sekolah meski ada program gratis.
–












