
Gerimis dari Mimbar Jumat
ESuGema dari atas mimbar
Berkumandang kaku
mengeja aksara beku
tanpa jemari rindu
Di hamparan sajadah
nampak kepala-kepala
mulai merunduk
bukan karena khusyuk
tetapi karena kantuk
yang membujuk
khutbah mengawang di langit
menghitung dosa
tanpa menuntun kaki
Namun
ketika udara masjid
berubah rasa
Saat teks khutbah yang kaku
mulai menutup jeda
Suara yang tadinya meninggi
melunak lirih
Khatib tak lagi mendikte
dari puncak menara
Ia turun membawa hati
memeluk jiwa yang lara
Di sudut belakang
Seorang jamaah tersungkur
pakaiannya berdebu
jiwanya lebam hancur
Ia membawa kepingan
hati yang patah
Takut dihardik tirai masjid
yang megah
Namun dari mimbar
meluncur kata-kata lembut
yang membelai
membuat rindu makin berkobar
Kini khutbah mengalir
bagai gemercik telaga
merangkul jiwa yang letih
dan dahaga
tatapan mata sang khatib
menyapa penuh
rona
menerangi gulita
memeluk lara dunia
Kita ini musafir yang penuh luka
sama-sama menuju
ampunan dan wangi sorga
Si jamaah tadi
pulang dengan linangan
air mata
tetapi hatinya sejuk
lantaran gerimis dari
mimbar jumat
membasuh kemarau di hatinya.
Limau 2 Kebayoran Baru
31 Juli 2026
- DR. H. Edy Sukardi, M.P.d, Rektor Universitas Muhammadiyah Bogor Raya
- Sastrawan Indonesia














