Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Sosial dan Budaya
  • Budaya Belitong: Kik Mahatim dan Ritual Bepandik, Kearifan Menyembuhkan Tubuh dan Jiwa
InShot 20260731

Budaya Belitong: Kik Mahatim dan Ritual Bepandik, Kearifan Menyembuhkan Tubuh dan Jiwa

1000906551

Oleh: Sudharma Yuda – Penggiat Budaya Belitong

MEDIA DAULAT RAKYAT TANJUNGPANDAN BELITUNG – Di ujung timur Sumatera, tepatnya di tanah Belitong, dulu hidup berdampingan antara manusia dan alam bukan sekadar pepatah. Di Badau, sebuah kampung yang masih kental adatnya, nama Kik Mahatim disebut dengan penuh hormat. Ia bukan dokter, bukan pula dukun dalam stigma modern. Kik Mahatim adalah seorang ahli pengobatan tradisional sekaligus penjaga warisan leluhur yang ilmunya diturunkan turun-temurun.

Bagi masyarakat Badau tempo dulu, kehadirannya adalah jembatan. Jembatan antara keluhan tubuh manusia, kekuatan akar kayu di hutan, dan doa yang dipanjatkan ke Sang Pencipta.

Pengobatan Tradisional: Menyembuhkan dengan Akar, Daun, dan Niat

Kik Mahatim dikenal lihai meracik obat dari apa yang disediakan hutan Belitong. Akar kayu tua, daun-daunan, kulit batang, hingga rempah dipilih dengan teliti. Tidak ada resep tertulis. Semua hafal di luar kepala, diwariskan lewat bisik dan praktik.

Yang membuat berbeda: setiap ramuan dipercaya memiliki “roh penyembuh”. Artinya, obat tidak hanya bekerja pada luka atau demam, tetapi juga pada gelisah, takut, dan lelah batin si pasien.

Orang datang ke rumah Kik Mahatim bukan cuma karena sakit fisik. Ada yang datang karena susah tidur, anak rewel terus, atau badan terasa “berat” setelah dari kebun. Setelah minum ramuan dan mendengar nasihatnya, banyak yang pulang dengan tubuh lebih ringan dan hati lebih tenang.

“Ubat urang Belitong tu bukan sekadar diminum. Kena ada keyakinan, ada doa, baru mujarab,” ujar salah seorang tetua Badau mengenang.

Ritual Bepandik: Penutup yang Sakral

Yang membuat pengobatan Kik Mahatim lengkap adalah ritual penutup bernama bepandik. Ini dilakukan setelah pasien dinyatakan sembuh.

Bepandik bukan sekadar selamatan. Ini adalah “pengunci” agar penyakit tidak kembali, sekaligus ungkapan syukur.

Ritualnya sederhana, tapi setiap unsur punya makna:

  1. Tepung beras – ditaburkan sebagai simbol kesucian dan niat bersih. Diharapkan hidup pasien kembali putih, tanpa noda penyakit.
  2. Kunyit – dikombinasikan dengan air dan dioleskan sedikit. Warna kuningnya melambangkan kekuatan, kewibawaan, dan perlindungan dari hal buruk.
  3. Daun neruse – daun ini dipercaya masyarakat Belitong sebagai penolak bala. Sering digunakan untuk pagar gaib agar gangguan tidak datang lagi.

Sambil memegang ketiga media itu, Kik Mahatim membacakan doa dan jampi-jampi dalam bahasa Melayu Belitong. Irama bacaannya pelan, khidmat. Keluarga pasien, tetangga, kadang anak-anak kampung ikut duduk melingkar. Hening, hanya terdengar suara doa dan gesekan daun.

Makna Sosial dan Spiritual: Lebih dari Sekadar Sembuh

Bepandik adalah peristiwa budaya. Di sanalah 3 nilai Belitong bertemu:

  • Sosial: Ritual ini mengumpulkan orang. Saat bepandik, kampung jadi ramai. Ada yang bantu siapkan air, ada yang jaga anak. Kebersamaan itu sendiri sudah jadi obat.
  • Spiritual: Doa yang dilantunkan menghubungkan manusia dengan alam dan Tuhan. Masyarakat percaya, tanpa restu dari atas, obat dari bawah tidak akan sempurna.
  • Budaya: Bepandik menunjukkan cara Belitong memadukan ilmu dan adat. Tidak dipisahkan antara medis dan spiritual, antara logika dan kepercayaan.

Bagi orang Badau, sembuh itu bukan cuma “tidak sakit lagi”. Sembuh berarti badan sehat, pikiran tenang, hubungan dengan sesama dan alam kembali harmonis.

Warisan Leluhur yang Perlu Dijaga

Kini, Kik Mahatim sudah tiada. Pengobatan modern juga sudah masuk ke Badau. Tapi cerita tentang beliau dan ritual bepandik masih hidup. Diceritakan nenek ke cucu, saat malam berkumpul di beranda.

Tradisi ini mengingatkan kita: di Belitong, kesehatan itu holistik. Tubuh dirawat dengan akar kayu, jiwa dirawat dengan doa, dan sosial dirawat dengan kebersamaan.

Di tengah gempuran dunia yang serba cepat, bepandik adalah jeda. Sebuah jeda untuk mengingat bahwa manusia bukan terlepas dari alam, dan kesembuhan bukan hanya soal pil.

Melestarikan kisah Kik Mahatim berarti melestarikan cara Belitong memandang hidup: seimbang, bersyukur, dan tidak melupakan akar.

“Orang Belitong tu kalau sakit, ubatnya dari utan. Kalau sembuh, syukurnya pakai adat.”

Catatan Redaksi:
Ritual bepandik hingga kini masih dipraktikkan secara terbatas oleh beberapa tetua di Badau dan sekitarnya. Dokumentasi dan pelestarian perlu terus dilakukan agar kearifan lokal ini tidak hilang ditelan zaman.

Artikel Terkait

InShot 20260731

Warung Makan di Sijuk Terbakar…

MEDIA DAULAT RAKYAT TANJUNGPANDAN, Jumat 31…

InShot 20260731

Garuda Pesta Gol! Timnas Indonesia…

MEDIA DAULAT RAKYATCHONBURI, Jumat 31 Juli…

File 0000000099a481fab890b051bad0312c

Bupati Belitung Dorong Evaluasi Menyeluruh…

MEDIA DAULAT RAKYAT TANJUNGPANDAN, 31 Juli…