
MEDIA DAULAT RAKYAT TANJUNGPANDAN, 13 September 2026 – Setiap pagi di hari Car Free Day kawasan Bundaran Batu Satam, Tanjung Pandan berubah wajah. Jalan yang biasanya ramai kendaraan berganti jadi lautan manusia. Ada yang jalan santai, senam, bersepeda, hingga berjualan.
Di tengah keramaian itu, sosok Bu Asmawati, alumni SNA N Tanjung Pandan angkatan 1985, menjadi salah satu inspirasi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, ia tetap energik mengikuti olahraga pagi bersama warga. Kisahnya membuktikan CFD bukan sekadar menutup jalan, tapi memberi ruang hidup yang sehat bagi masyarakat.
Manfaat CFD Tanjung Pandan Belitung
Sejak rutin digelar, CFD di Bundaran Batu Satam memberi dampak luas. Ada 4 manfaat utama yang dirasakan warga:
1. Kesehatan Fisik
Warga bisa berolahraga bersama secara gratis. Mulai dari jalan santai, senam massal, hingga komunitas sepeda. Aktivitas rutin ini membantu menjaga kebugaran.
Bu Asmawati adalah contohnya. Sebagai alumni SNA N 85, ia tak pernah absen ikut senam pagi. “Badan jadi segar, pertemanan juga nambah,” ujarnya sambil tersenyum usai senam.
2. Interaksi Sosial
CFD jadi ruang temu lintas usia dan latar belakang. Alumni 80-an bisa ngobrol dengan pelajar SMA, ibu-ibu PKK bisa arisan kecil, bapak-bapak komunitas sepeda bisa ngopi bareng.
Tidak ada sekat. Semua sama-sama warga Tanjung Pandan yang ingin berkumpul.
3. Ruang Publik Hidup
Bundaran Batu Satam yang biasanya hanya dilewati kendaraan, kini jadi pusat aktivitas warga. Ada panggung senam, lapak UMKM, dan area bermain anak.
Ruang publik benar-benar “dihidupkan” untuk manusia, bukan mesin.
4. Kesadaran Lingkungan
Dengan menutup jalan dari kendaraan bermotor selama beberapa jam, polusi udara dan kebisingan berkurang. Warga jadi lebih sadar pentingnya udara bersih dan kota yang ramah pejalan kaki.
5. Penggerak Ekonomi Lokal
CFD juga menghidupkan ekonomi kecil. Pedagang jajanan, minuman, pakaian olahraga, hingga UMKM kuliner ikut meramaikan. Ada perputaran ekonomi tambahan yang membantu penghasilan warga.
Kisah Inspiratif Bu Asmawati
Bagi Bu Asmawati, CFD adalah rutinitas wajib. Lulusan SNA N Tanjung Pandan angkatan 1985 ini datang bersama teman-teman alumni setiap pekan.
“Dari dulu kami memang suka kumpul. Dulu di sekolah, sekarang di CFD. Yang penting sehat dan bisa ketemu teman lama,” katanya.
Ia mengaku awalnya ikut karena diajak, tapi lama-lama ketagihan. Jalan kaki 3 keliling Bundaran, lanjut senam, lalu ngobrol sambil sarapan.
“Kuncinya jangan malas. Usia boleh bertambah, tapi semangat harus tetap muda. Di CFD ini saya merasa lebih hidup,” ujarnya.
Semangat Bu Asmawati menular. Banyak ibu-ibu seusianya jadi ikut termotivasi untuk rutin berolahraga.
CFD: Lebih dari Sekadar Olahraga
Bagi Pemkab Belitung, CFD bukan hanya program kesehatan. Ini adalah investasi sosial.
Warga jadi punya tempat aman untuk bergerak. Anak-anak bisa bermain tanpa takut kendaraan. Komunitas bisa tumbuh. Dan yang paling penting, rasa kebersamaan antar warga Tanjung Pandan semakin kuat.
Pedagang seperti Pak Junaidi, penjual es kelapa di Bundaran, mengaku omzetnya naik saat CFD. “Alhamdulillah, ramai. Orang habis olahraga pasti haus,” katanya.
CFD Bundaran Batu Satam telah menjadi lebih dari sekadar penutupan jalan. Ia adalah ruang kesehatan, ruang sosial, ruang ekonomi, dan ruang lingkungan.
Kisah Bu Asmawati memberi inspirasi bahwa semangat hidup sehat tidak mengenal usia. CFD membuktikan bahwa ketika jalan diberi untuk manusia, maka kota akan terasa lebih hidup.
Pemkab Belitung diharapkan terus menjaga dan mengembangkan CFD agar manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak warga, dari pelajar sampai lansia.












