MEDIA DAULAT RAKYAT NNGGAR, 16 September 2026 – Pemkab Belitung Timur menemukan harga Pertalite eceran mencapai Rp14 ribu per liter dalam sidak yang digelar di Manggar dan Kelapa Kampit. Sidak dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Belitung Timur Khairil Anwar bersama Forkopimda.
Temuan ini menguatkan keluhan warga yang beberapa hari terakhir kesulitan mendapatkan Pertalite.
Fakta Sidak BBM Eceran Beltim
Sidak dilakukan dua hari berturut-turut:
- Lokasi sidak: Kecamatan Manggar (15 September 2026) dan Kecamatan Kelapa Kampit (16 September 2026)
- Pimpinan sidak: Wakil Bupati Belitung Timur, Khairil Anwar, bersama unsur Forkopimda, Disperindag, dan Satpol PP
Temuan utama di lapangan:
- Banyak Pertamini tutup tidak jual Pertalite beberapa hari terakhir karena pasokan kosong dari pangkalan.
- Sebagian kecil pedagang masih menjual namun dengan harga variatif, tertinggi Rp14 ribu per liter.
- Alasan harga tinggi: Pedagang mengaku membeli BBM dengan modal Rp240 ribu per jeriken (isi 20 liter), sehingga harus menaikkan harga jual untuk dapat untung.
Pernyataan Wakil Bupati Belitung Timur
Wakil Bupati Belitung Timur Khairil Anwar menyampaikan bahwa rata-rata Pertamini di dua kecamatan tersebut dalam beberapa hari terakhir tidak menjual Pertalite.
Ia juga menjelaskan bahwa kalaupun masih ada yang menjual, harganya bervariasi dan yang termahal mencapai Rp14 ribu per liter.
Terkait alasan tingginya harga, Khairil mengungkapkan berdasarkan keterangan pedagang, modal pembelian BBM mereka mencapai Rp240 ribu per jeriken. Kendati demikian, pihak Pemkab telah memberikan imbauan agar para pengecer tetap menjual dengan harga yang wajar.
Jika dihitung, modal Rp240 ribu per jeriken 20 liter berarti modal awal Rp12 ribu per liter. Dengan harga jual Rp14 ribu, pedagang mengambil untung Rp2 ribu per liter.
Konteks Harga BBM Resmi
Lonjakan harga eceran ini jauh di atas harga resmi pemerintah.
- Harga resmi Pertalite di SPBU: Rp10.000/liter (per 14 September 2026)
- Harga eceran di Beltim: Rp14.000/liter
- Selisih: Rp4.000/liter lebih mahal
Di sisi lain, Pertamina Babel mencatat konsumsi Pertalite di Beltim sudah mencapai 22.753 KL hingga awal September 2026. Angka ini berpotensi over kuota 1% dari alokasi tahunan 32.956 KL.
Kondisi ini memicu polemik disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Selisih harga yang besar membuat Pertalite diburu, bahkan diduga ada praktik pengeceran dan penimbunan untuk dijual kembali dengan harga tinggi.
Implikasi dan Harapan
Dampak ke masyarakat cukup terasa, terutama bagi nelayan, pengemudi ojek, dan petani yang sangat bergantung pada Pertalite. Di wilayah dengan jumlah SPBU terbatas seperti Kelapa Kampit, warga tidak memiliki pilihan selain membeli eceran dengan harga mahal.
Pemkab Belitung Timur mengimbau para pedagang agar tidak memanfaatkan kelangkaan untuk mengambil keuntungan berlebihan dan meminta agar harga jual tetap wajar agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.
Pemkab juga akan berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan kelancaran pasokan dan memperketat pengawasan distribusi BBM subsidi, mulai dari SPBU hingga ke tingkat pengecer.
Sidak akan terus dilakukan secara berkala untuk memastikan harga tetap terkendali dan pasokan kembali normal.












