MEDIA DAULAT RAKYAT BELITUNG TIMUR, 18 September 2026 – Musim kemarau di Belitung Timur membuat jasa pengantar air kebanjiran pesanan, dengan kapasitas layanan mencapai 20 ton per hari. Warga di Kelapa Kampit kini bergantung pada suplai air dari sumber Aik Wasrai untuk kebutuhan MCK, sementara air minum diambil dari Aik Kumpe.
Fenomena mobil pick-up bermuatan toren air biru besar kini menjadi pemandangan rutin setiap pagi di jalanan Kelapa Kampit.
Lonjakan Permintaan Air Bersih
Musim kemarau panjang tahun 2026 menyebabkan banyak sumur warga di Kecamatan Kelapa Kampit kering total. Sumur gali yang biasanya memiliki kedalaman 6-8 meter kini sudah tandus tak bersisa.
Armada mobil pick-up dengan toren berkapasitas 1.000 hingga 1.200 liter beroperasi setiap pagi mulai pukul 06.00 WIB untuk mengisi kebutuhan warga. Dalam sehari, satu armada bisa 4-5 kali bolak-balik mengambil air.
Suhu terik yang mencapai 34 derajat celcius memperparah kondisi, sehingga pasokan air keliling menjadi solusi utama bagi warga yang tidak terjangkau bantuan BPBD.
Peran Jasa Pengantar Air Jadi Penyelamat
Darmawan (47), salah satu penyedia jasa pengantar air paling laris di Kelapa Kampit, menyebut permintaan meningkat drastis hingga 300 persen dibanding bulan-bulan normal.
“Untuk di Kelapa Kampit ini Alhamdulillah permintaannya sangat tinggi sekali. Karena cuaca ekstrem seperti ini, rata-rata perigi (sumur) warga sudah tandus dan kering,” ungkap Darmawan saat ditemui, Kamis (18/9/2026).
Ia mengaku dalam sehari bisa menyalurkan hingga 20 ton air bersih untuk 15-20 rumah pelanggan tetapnya.
Warga terbantu karena suplai air bisa langsung digunakan untuk kebutuhan harian, terutama untuk Mandi, Cuci, Kakus (MCK). Untuk satu toren 1.000 liter, warga harus merogoh kocek Rp 80 ribu hingga Rp 120 ribu tergantung jarak.
Sumber Air yang Diandalkan Warga
Di tengah krisis, warga Kelapa Kampit memiliki dua sumber mata air andalan yang masih bertahan:
1. Air Minum: Aik Kumpe di Desa Senyubuk
Mata air Aik Kumpe dikenal memiliki kualitas air yang jernih dan layak minum. Warga rela antre berjam-jam membawa jeriken untuk mengambil air minum dari sumber ini.
2. Air MCK: Aik Wasrai di Kelapa Kampit
Untuk kebutuhan mandi dan cuci, pasokan utama berasal dari Aik Wasrai. Debitnya memang menurun, namun masih cukup untuk disedot menggunakan pompa dan diangkut dengan pick-up.
Kombinasi dua sumber ini menjadi penopang utama masyarakat di tengah krisis air yang diprediksi BMKG akan berlanjut hingga awal 2027.
Dukungan Pemerintah Belum Cukup
Selain jasa swasta, BPBD Belitung Timur juga membuka layanan distribusi air bersih gratis sebagai upaya meringankan beban masyarakat.
Satu unit truk tangki berkapasitas 5.000 liter disiagakan setiap hari untuk wilayah yang paling parah terdampak kekeringan.
Kepala BPBD Belitung Timur, Zainal Harison, menegaskan layanan ini untuk meringankan beban masyarakat yang kesulitan air.
“Kami siagakan 1 truk tangki 5.000 liter setiap hari. Warga bisa melapor ke desa atau langsung ke BPBD jika sumurnya kering, nanti akan kami jadwalkan pengirimannya. Ini gratis untuk masyarakat,” tegas Zainal Harison.
Namun, dengan jumlah armada terbatas dan wilayah yang luas, banyak warga yang belum terlayani sehingga memilih menggunakan jasa swasta berbayar agar kebutuhan harian tetap terpenuhi.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Krisis air ini memunculkan dua sisi yang berbeda:
Ekonomi lokal: Jasa pengantar air mendapat berkah dari lonjakan permintaan, meski di tengah kondisi warga yang sulit. Dalam sehari, penyedia jasa bisa mengantongi Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta omzet kotor.
Sosial: Warga harus mengeluarkan biaya tambahan Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per minggu hanya untuk suplai air. Bagi keluarga kurang mampu, ini menjadi beban berat di tengah kemarau.
Risiko: Ketergantungan pada suplai eksternal bisa menimbulkan masalah distribusi jika permintaan terus meningkat dan sumber Aik Wasrai serta Aik Kumpe ikut mengering.
Fenomena jasa pengantar air laris manis di Belitung Timur ini menunjukkan bagaimana krisis air akibat kemarau panjang menciptakan peluang ekonomi sekaligus tantangan sosial yang nyata.
Jasa pengantar air menjadi penyelamat harian warga Kelapa Kampit, sementara pemerintah hadir dengan distribusi gratis untuk menjaga keseimbangan kebutuhan masyarakat. Sinergi keduanya sangat dibutuhkan agar 12 ribu jiwa terdampak kekeringan di Belitung tetap bisa bertahan hingga musim hujan tiba.












