
oleh: Akhlanudin
Belitung — Di jantung Belitung Timur, tersembunyi sebuah kisah yang melampaui zaman: hikayat *Syekh Abubakar Abdullah*, ulama asal Aceh yang dipercaya sebagai penyebar pertama ajaran Islam di pulau ini pada abad ke-18.
Jejak dakwahnya bukan hanya membentuk peradaban lokal, tetapi juga meninggalkan warisan spiritual abadi di puncak Gunung Tajam.
Syekh Abubakar, dikenal juga sebagai Sayid Hasan bin Abdullah, tiba melalui Sungai Buding dan menetap di Desa Buding. Dengan pendekatan damai dan spiritual, ia mulai menyebarkan ajaran Islam ke berbagai penjuru Belitung.
Muridnya yang paling setia, Tu’ Kundo, menjadi tangan kanan dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat lokal.
Keberhasilan dakwah sang syekh ternyata menimbulkan ketegangan dengan penguasa lokal, Kiai Agus Bustam dari Kerajaan Balok. Merasa terancam, sang penguasa menggunakan metode mistik untuk membunuh sang syekh: menusuk jempol kaki kanannya dengan jarum emas—satu-satunya titik lemahnya yang dikenal lewat ilmu batin.
Sebelum wafat, Syekh Abubakar berpesan agar jasadnya dikuburkan “di antara langit dan bumi.” Karena Tu’ Kundo sedang berada di luar daerah, jenazahnya terlebih dahulu dimakamkan di hulu Sungai Air Batu Buding.
Namun, saat kembali dan mengingat pesan itu, Tu’ Kundo menafsirkan maksud sang guru sebagai permintaan agar dimakamkan di puncak Gunung Tajam, titik tertinggi di Belitung.
Keajaiban pun terjadi—jenazah yang telah dikubur selama berbulan-bulan ditemukan utuh dan harum. Proses pemindahan makam dipandu oleh kucing kesayangan sang syekh, yang akhirnya wafat di lokasi pemakaman.
Penggalian berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, dengan hanya tujuh murid yang bertahan hingga akhir pemakaman.
Kini, di puncak Gunung Tajam berdirilah makam Syekh Abubakar Abdullah, yang dikenal sebagai Keramat Gunung Tajam.
Lokasi ini menjadi tempat ziarah umat Islam dari berbagai penjuru, bukan hanya mencari berkah, tetapi juga menyambung kembali tali sejarah dan spiritualitas pulau Belitung.
*) Akhlanudin Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014-2018












