Oleh: Akhlanudin
Tanjungpandan, Belitung — Di balik hiruk-pikuk kota pelabuhan Tanjungpandan, berdiri sebuah struktur tua yang nyaris terlupakan: galangan kapal yang dibangun pada tahun 1904, menjadikannya salah satu fasilitas maritim tertua di Kepulauan Bangka Belitung.
Meski tak lagi aktif, galangan ini menyimpan jejak teknologi pelayaran dan industri kolonial yang pernah menghidupi pulau ini selama lebih dari satu abad.
Jejak Teknik Sipil Kolonial
Galangan ini dilengkapi dengan sistem pintu air dan kolam perawatan kapal sedalam 7 meter—fitur yang menunjukkan tingkat kecanggihan teknik sipil pada masa itu.
Jalur masuk kapal yang masih terlihat jelas dari dokumentasi visual menunjukkan bahwa galangan ini dirancang untuk menerima kapal-kapal berukuran sedang hingga besar, kemungkinan besar kapal tambang dan kapal niaga yang beroperasi di perairan Belitung dan sekitarnya.
Struktur pintu air yang masih utuh menjadi bukti bahwa galangan ini bukan sekadar tempat tambat, melainkan pusat perawatan kapal yang memanfaatkan prinsip dry dock—kapal dimasukkan ke dalam kolam, air dikeringkan, dan perbaikan dilakukan di dasar lambung.
Fungsi Strategis dalam Sejarah Maritim Belitung
Pada awal abad ke-20, Belitung merupakan pusat pertambangan timah dan jalur perdagangan laut yang penting. Galangan ini diyakini menjadi bagian dari infrastruktur pendukung industri tersebut, melayani kapal-kapal milik perusahaan tambang maupun kapal dagang yang membawa hasil bumi ke pelabuhan-pelabuhan besar di Batavia, Singapura, dan Semenanjung Malaya.
Menurut sejarawan lokal, galangan ini juga menjadi titik transit bagi kapal-kapal kolonial yang melakukan patroli atau pengawasan di wilayah timur Sumatra. “Galangan ini adalah saksi bisu bagaimana Belitung pernah menjadi simpul logistik maritim yang vital,” ujar Ahmad Rifai, peneliti sejarah maritim dari Belitong Heritage Society.
Potensi Cagar Budaya dan Edukasi
Meski kini terbengkalai, galangan ini menyimpan potensi besar sebagai situs cagar budaya. Pemerhati sejarah dan komunitas pelestari warisan lokal mendorong agar galangan ini direvitalisasi sebagai pusat edukasi sejarah pelayaran dan teknologi maritim.
Dengan restorasi yang tepat, galangan ini bisa menjadi museum terbuka yang mengedukasi generasi muda tentang peran Belitung dalam sejarah pelayaran Nusantara.
“Galangan ini bukan hanya bangunan tua, tapi arsip hidup tentang bagaimana manusia menguasai laut dan teknologi,” kata Yusri, tokoh adat yang aktif dalam pelestarian situs sejarah di pesisir Tanjungpandan.












