
Di jantung Kampung Raja, berdiri megah Masjid Jami’ Al Mabrur—sebuah bangunan yang bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah, perubahan sosial, dan dinamika arsitektur lokal. Masjid ini dibangun pada masa kepemimpinan K.A. Muhammad Saleh, yang dikenal dengan gelar Depati Cakraningrat IX, seorang tokoh penting dalam sejarah lokal yang turut membentuk identitas masyarakat Belitung.
Sejarah Pendirian dan Renovasi
Masjid Jami’ Al Mabrur pertama kali didirikan di atas pondasi seluas 16,5 meter persegi, dengan tiang-tiang dari kayu bulin—kayu besi yang dikenal karena kekuatannya dan ketahanannya terhadap cuaca tropis. Atapnya kala itu bertumpang tiga dan terbuat dari seng, mencerminkan gaya arsitektur tradisional yang berpadu dengan pengaruh kolonial.
Renovasi besar dilakukan antara tahun 1870 hingga 1872, dengan pendanaan dari pemerintah kolonial Belanda. Ini menandai fase penting dalam transformasi masjid, baik dari segi fisik maupun fungsional. Sejak itu, masjid telah mengalami empat kali renovasi besar, dengan yang terakhir dilakukan pada tahun 2005.
Renovasi ini menambahkan bangunan di bagian selatan dan mengganti kubah kecil menjadi kubah besar berwarna hijau, dihiasi jendela-jendela kecil yang memungkinkan cahaya masuk secara alami.
Arsitektur dan Simbolisme
Arsitektur Masjid Jami’ Al Mabrur adalah perpaduan antara estetika tradisional dan adaptasi kolonial. Lorong masuk menyerupai lorong masjid klasik, menyatu dengan kubah kecil di bagian atas.
Tiang-tiang besar menopang bagian mihrab di sisi barat, yang dihiasi dengan kaligrafi Arab dan motif flora yang menggulung ke atas—simbol keagungan dan pertumbuhan spiritual.
Menara masjid yang menjulang di sisi selatan digunakan untuk mengumandangkan adzan. Dengan tinggi mencapai radius 15 meter, menara ini dulunya memiliki puncak berbentuk tumpang dua, namun sejak renovasi 2005, bagian atasnya diganti dengan kubah besar yang kini menjadi ikon visual masjid.
Bagian dalam masjid menampilkan mimbar kayu dengan tiga undakan, dihiasi kaligrafi dan sulur-suluran di kanan-kiri pintu. Atap kayu berbentuk segi empat dengan ujung-ujung yang menjulur keluar menambah kesan sakral dan elegan.
Dinding bagian atas memiliki lubang persegi yang ditutup kaca, memungkinkan cahaya alami menyinari ruang utama, menciptakan suasana khusyuk dan tenang.

Peran Sosial dan Transformasi Lingkungan
Masjid Jami’ Al Mabrur tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat. Dahulu, masjid ini berdiri tepat di depan alun-alun istana raja, menandakan kedekatannya dengan kekuasaan dan simbol spiritualitas kerajaan. Kini, tapak istana dan alun-alun tersebut telah hilang, tergantikan oleh pemukiman penduduk yang tumbuh di sekitar masjid.
Lahan pertanian dan kebun masyarakat yang dulu terletak di timur masjid kini telah berubah menjadi kawasan padat penduduk. Meski demikian, masjid tetap menjadi titik sentral kehidupan komunitas, tempat berkumpulnya nilai-nilai adat, spiritualitas, dan solidaritas sosial












