
Bangka Tengah— Gelombang penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Pulau Kelasa, Bangka Tengah, kembali menguat.
Warga Desa Batu Beriga bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kepulauan Bangka Belitung menggelar nonton bareng (nobar) dua film dokumenter: Ekspedisi Pulau Gelasa dan dokumenter tragedi nuklir Fukushima.
Acara yang berlangsung pada Minggu malam ini menjadi momentum reflektif dan edukatif bagi masyarakat pesisir. Ini merupakan kali kedua WALHI Babel mengadakan kegiatan serupa, setelah sebelumnya digelar di Dusun Tanjung Berikat dengan partisipasi masyarakat, akademisi, mahasiswa, dan pegiat lingkungan.
‘Film ini menyoroti kekayaan ekosistem perairan Pulau Kelasa sekaligus menggambarkan ancaman nyata dari pembangunan PLTN, terutama jika kita belajar dari bencana Fukushima,” ujar Regi Yoga Pratama, Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Babel.
Regi menyoroti keluarnya persetujuan evaluasi dari BAPETEN pada 30 Juli 2025 sebagai titik krusial yang memperbesar ancaman terhadap ruang hidup nelayan dan keberlanjutan ekologi Pulau Gelasa.
“Pulau Gelasa adalah benteng ekologi. Jika dijadikan lokasi PLTN, akan terjadi perampasan ruang hidup nelayan dan privatisasi akses laut,” tegasnya.
Bagi nelayan Bangka Belitung, Pulau Kelasa memiliki makna mendalam—sebagai identitas budaya, navigasi tradisional, penahan gelombang alami, dan tempat berlindung saat badai. Sayyidina, nelayan sotong asal Batu Beriga, menyampaikan kekhawatiran atas dampak langsung terhadap mata pencaharian mereka.
“Kalau ada PLTN, bukan cuma ancaman radiasi yang menakutkan, tapi juga pembatasan akses nelayan ke laut,” katanya.
Ia juga menilai tawaran investasi dari PT Thorcon Power Indonesia—seperti dermaga nelayan, lapangan kerja, dan listrik murah—sebagai “janji manis” yang berpotensi mengeksploitasi laut dan budaya pesisir.
“Selama 20 tahun terakhir, kami sudah sering menghadapi ancaman perusakan laut. Laut bagi kami bukan sekadar sumber ekonomi, tapi warisan leluhur,” tegas Sayyidina.
Warga Batu Beriga menyatakan komitmen untuk terus menjaga laut dan menolak segala bentuk perusakan. Mereka menegaskan bahwa janji investasi tidak sebanding dengan nilai-nilai adat dan keberlanjutan ekologi yang telah diwariskan turun-temurun.
“Menukar laut dengan janji-janji investasi sama saja mencederai nilai-nilai nenek moyang kami,” tutup Sayyidina.
Seruan #TolakPLTN pun menggema di akhir acara, memperkuat solidaritas masyarakat pesisir dalam mempertahankan ruang hidup dan ekosistem laut Bangka Belitung.












