Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Gerhana Bulan Total Warnai Langit Indonesia: Fenomena Alam, Mitos, dan Dampaknya
Img 20250908 012545

Gerhana Bulan Total Warnai Langit Indonesia: Fenomena Alam, Mitos, dan Dampaknya

Img 20250908 012545

Jakarta, 8 September 2025 Langit malam Indonesia dihiasi gerhana bulan total pada 7– 8 September 2025, sebuah fenomena langit yang memikat sekaligus memunculkan beragam respons dari masyarakat dan ilmuwan.

Gerhana ini berlangsung selama lebih dari lima jam, dengan fase totalitas mencapai 1 jam 22 menit, menjadikan momen ini salah satu gerhana bulan terlama dalam dekade terakhir.

Secara ilmiah, gerhana bulan total terjadi saat Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi menutupi seluruh permukaan Bulan. Pada puncaknya, Bulan tampak kemerahan—dikenal sebagai blood moon—akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.

BMKG mencatat bahwa gerhana ini berdampak pada pasang air laut, terutama di wilayah pesisir. “Gaya tidal maksimum saat gerhana bisa memicu pasang naik yang lebih tinggi dari biasanya,” ujar seorang peneliti geofisika BMKG.

Meski demikian, gerhana bulan tidak memengaruhi cuaca secara langsung dan aman disaksikan dengan mata telanjang.

Beberapa ilmuwan juga menyoroti potensi tekanan tambahan pada kerak bumi akibat gaya tidal ekstrem, meski belum ada konsensus bahwa gerhana bulan dapat memicu gempa secara langsung.

Di sisi lain, masyarakat di berbagai daerah memaknai gerhana dengan cara yang beragam.

Di beberapa komunitas adat, gerhana bulan masih dikaitkan dengan mitos makhluk gaib yang “menelan” Bulan, sebagai pertanda perubahan atau peringatan alam. Tradisi doa bersama dan ritual adat pun digelar di sejumlah titik, termasuk di pesisir Belitung dan pedalaman Jawa Barat.

Sementara itu, sejumlah warga melaporkan perubahan suasana hati dan pola tidur menjelang gerhana, sebuah fenomena yang kerap dikaitkan dengan fase bulan purnama. Meski belum terbukti secara medis, efek psikologis ini menjadi bagian dari narasi sosial yang menyertai peristiwa langit tersebut.

Gerhana bulan total kali ini bukan hanya tontonan astronomi, tetapi juga cerminan hubungan manusia dengan alam—dari sains hingga spiritualitas.

Di tengah langit yang memerah, masyarakat Indonesia kembali diingatkan akan siklus kosmik yang terus berputar, membawa pesan tentang waktu, perubahan, dan keterhubungan semesta.

Artikel Terkait

InShot 20260811

Dosen Gizi UMBARA Dr. Lora…

BOGOR, 11 Agustus 2026 – Sivitas…

InShot 20260811

Bambang Pati Jaya: Penanganan Sampah…

MEDIA DAULAT RAKYAT PANGKALPINANG, 11 Agustus…

InShot 20260811

Rapat Paripurna Usulan Pemakzulan Wagub…

MEDIA DAULAT RAKYAT PANGKALPINANG, 11 Agustus…