Media Daulat Rakyat

Inshot 20251126 055909792

Selamat Sore: Nostalgia Pendidikan yang Humanis

Img 20251127 051742

Puisi Edy Sukardi yang dimuat di Daulat Rakyat menghadirkan refleksi sederhana namun sarat makna tentang guru, waktu, dan kenangan masa kecil. Ia menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan pengalaman yang membentuk identitas dan etika sosial.

Puisi “Selamat Sore” karya Edy Sukardi menyoroti figur Tuan Guru Yusuf sebagai simbol keteladanan. Sosok guru digambarkan bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga penanda waktu dan kehidupan sosial kampung. Ketika beliau pulang, masyarakat tahu bahwa hari sudah beranjak sore—sebuah metafora tentang guru sebagai penentu arah dan ritme kehidupan.

Kesederhanaan syarat masuk sekolah yang digambarkan—anak diterima jika bisa melingkarkan tangan hingga menyentuh telinga—menjadi kritik halus terhadap birokrasi pendidikan modern. Dulu, pendidikan berangkat dari kebutuhan praktis dan kepercayaan sosial, kini ia dipenuhi syarat administratif. Puisi ini mengingatkan bahwa esensi pendidikan adalah akses dan kesempatan, bukan sekadar formalitas.

Dimensi nostalgia terasa kuat. Edy Sukardi menulis bukan hanya untuk mengenang masa kecil, tetapi juga untuk meneguhkan nilai hormat kepada guru. Tradisi menyapa dengan “Selamat Sore” sambil menundukkan kepala adalah simbol penghargaan yang kini mulai memudar. Puisi ini mengajak kita untuk menghidupkan kembali etika sederhana yang membangun karakter bangsa.

Makna Hari Guru yang terselip di akhir puisi memperluas konteks: penghormatan kepada guru bukan hanya ritual tahunan, tetapi harus menjadi kesadaran kolektif. Guru adalah penjaga moral, pengarah jalan, dan pengikat memori sosial. Dengan mengaitkan pengalaman pribadi dengan peringatan Hari Guru, Edy Sukardi menegaskan relevansi universal dari kenangan lokal.

Puisi ini menggugah kesadaran masyarakat bahwa pendidikan adalah bagian dari kebudayaan, bukan sekadar sistem.

Guru hadir sebagai figur moral yang membentuk identitas komunitas.

Bagi pembaca, puisi ini menjadi cermin refleksi: apakah kita masih memberi hormat pada guru, ataukah penghargaan itu telah tergantikan oleh formalitas seremonial?

Puisi Edy Sukardi adalah seruan moral untuk kembali menempatkan guru sebagai pusat kehidupan sosial. Ia mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum, melainkan soal nilai, etika, dan penghormatan.

Dalam kesederhanaannya, puisi ini justru menegaskan kedalaman: bahwa kenangan kecil bisa menjadi fondasi besar bagi kesadaran kolektif bangsa.

Puisi “Selamat Sore” karya Edy Sukardi dimuat di Media Daulat Rakyat pada 26 November 2025. Puisi ini ditulis untuk mengenang sosok Tuan Guru Yusuf, guru di SD 02 Petang, yang menjadi simbol keteladanan dan penanda waktu dalam kehidupan masyarakat kampung.

Identitas Karya

  • Judul: Selamat Sore
  • Pengarang: Edy Sukardi (penyair, akademisi, dikenal dengan karya-karya bernuansa religius dan sosial)
  • Media Publikasi: Daulat Rakyat, 26 November 2025
  • Tema Utama: Pendidikan, penghormatan kepada guru, nostalgia masa kecil, dan refleksi sosial.
  • Latar: Kampung dan sekolah dasar, dengan figur guru sebagai pusat kehidupan sosial.
  • Tujuan Penulisan: Menghormati guru, mengenang tradisi sederhana pendidikan masa lalu, serta mengaitkan dengan Hari Guru sebagai refleksi moral.

Isi dan Makna:

  • Puisi ini menggambarkan ritual sederhana anak-anak kampung yang menunggu Tuan Guru Yusuf pulang sekolah untuk mengucapkan salam hormat. Guru menjadi simbol waktu: ketika beliau lewat, masyarakat tahu hari sudah pukul lima sore.
  • Ada kritik halus terhadap birokrasi pendidikan modern: dulu syarat masuk sekolah hanya sederhana (anak bisa melingkarkan tangan hingga menyentuh telinga), kini penuh administrasi.
  • Puisi menekankan nilai penghormatan kepada guru yang mulai memudar di era sekarang. Tradisi menyapa dengan “Selamat Sore” adalah simbol etika sosial yang membentuk karakter.
  • Dengan menyebut Hari Guru, puisi ini menegaskan relevansi universal: penghormatan kepada guru bukan sekadar seremonial, melainkan kesadaran kolektif.

Kekuatan Karya:

  • Bahasa sederhana namun sarat makna, mudah dipahami pembaca lintas usia.
  • Nuansa nostalgia yang kuat, membuat pembaca ikut merasakan suasana kampung dan masa kecil.
  • Simbolisme guru sebagai penanda waktu adalah metafora kreatif yang memperkaya makna puisi.

Kelemahan Karya:

  • Puisi cenderung naratif dan deskriptif, sehingga kurang menghadirkan eksplorasi imaji atau metafora yang lebih kompleks.
  • Fokus nostalgia bisa membuat pembaca yang tidak mengalami konteks serupa merasa agak jauh dari pengalaman personal penyair.

Nilai dan Relevansi:

  • Puisi ini relevan sebagai pengingat moral tentang pentingnya guru dalam membentuk identitas sosial.
  • Ia juga menjadi dokumen budaya, merekam tradisi pendidikan kampung yang sederhana namun penuh makna.
  • Bagi pembaca modern, puisi ini mengajak refleksi: apakah penghormatan kepada guru masih hidup dalam keseharian kita?

Kesimpulan

Puisi Selamat Sore karya Edy Sukardi adalah resonansi nostalgia sekaligus kritik sosial. Ia meneguhkan bahwa guru bukan hanya pengajar, melainkan penjaga moral dan penanda kehidupan komunitas.

Dengan bahasa sederhana, puisi ini berhasil menyampaikan pesan mendalam tentang pendidikan, etika, dan penghormatan yang harus terus dijaga.

Editor: Akhlanudin

Fb img 1759155898740
Fb img 1759155932500

Artikel Terkait

InShot 20260214

Kepala BKPSDM: 136 Pejabat Setara…

Intisari Berita TANJUNG PANDAN BELITUNG —…

InShot 20260214

MUI Belitung Sampaikan Duka atas…

TANJUNGPANDAN – Innalillahi wainna ilaihi rooji’uun.Keluarga…

InShot 20260214

Bupati Belitung Tekankan Kerja Tim…

Intisari Berita TANJUNG PANDAN, BELITUNG —…

Selamat Sore: Nostalgia Pendidikan yang Humanis – Media Daulat Rakyat