
Intisari Berita
- Banjir bandang dan longsor melanda berbagai daerah di Sumatra.
- Kerusakan parah pada rumah, fasilitas pendidikan, dan infrastruktur lainnya.
- Warga mengalami kesulitan akses ke air bersih, listrik, dan makanan.
- Beberapa daerah terisolasi karena kerusakan jalan dan jembatan.
SUMATRA – Lebih dari 600 orang dilaporkan meninggal dunia akibat banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan pada Senin (1 Desember 2025) bahwa jumlah korban meninggal mencapai 604 jiwa, dengan 464 orang masih dinyatakan hilang. Bencana ini telah berdampak pada 1,5 juta jiwa dan menyebabkan kerusakan parah pada lebih dari 27.000 rumah, serta ratusan fasilitas pendidikan dan jembatan.
Presiden Prabowo Subianto pada hari Senin mengunjungi lokasi bencana di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Ia menyatakan komitmennya untuk melakukan segala upaya dalam mengatasi kesulitan yang dialami masyarakat pascabencana. “Banyak jalan yang masih terputus, tapi kita segera melakukan segala upaya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami,” ujar Presiden Prabowo. Pemerintah berjanji untuk terus mengirimkan bantuan kepada para korban, dengan mengerahkan kapal besar dan pesawat Hercules milik TNI.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan deras yang memicu banjir dan longsor disebabkan oleh Siklon Senyar, fenomena cuaca langka yang jarang terjadi di wilayah khatulistiwa seperti Indonesia. Namun, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyoroti bahwa kerusakan lingkungan akibat industri ekstraktif memperparah dampak hujan ekstrem. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menambahkan bahwa pembangunan masif turut memperburuk situasi dengan menyebabkan pendangkalan sungai.
Kepala BNPB, Suharyanto, menyatakan bahwa dua daerah, yaitu Tapanuli Tengah dan Sibolga, menjadi perhatian serius karena masih terisolasi. Akses ke wilayah-wilayah ini sangat terbatas, dan insiden pengambilan bahan makanan di pertokoan modern sempat terjadi karena kekhawatiran warga akan kekurangan pasokan.
Pemerintah pusat telah mengirimkan bantuan penanganan bencana ke tiga provinsi terdampak sejak Jumat (28 November 2025), menggunakan pesawat Hercules dan A400. Bantuan meliputi tenda, perahu karet, genset, alat komunikasi, bahan makanan siap saji, serta tim medis dari TNI dan Kementerian Kesehatan.
Di Aceh, seorang warga Pidie Jaya menggambarkan banjir seperti “tsunami” dengan arus yang sangat deras. Akses transportasi di beberapa wilayah Aceh mengalami kerusakan signifikan, dengan jalur nasional perbatasan Sumut-Aceh terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan. Kondisi ini menyebabkan sejumlah kabupaten terisolasi.
Sementara itu, di Sumatra Utara, gangguan infrastruktur juga berdampak pada akses transportasi. Jalan Tarutung-Sibolga terputus di beberapa titik, dan sejumlah desa masih belum dapat dijangkau. Pemerintah tengah berupaya melakukan normalisasi dan menyalurkan bantuan logistik ke wilayah-wilayah terdampak.
Situasi di lapangan masih sangat memprihatinkan, dengan banyak warga kehilangan tempat tinggal dan kesulitan mengakses kebutuhan dasar. Pemerintah dan berbagai pihak terus berupaya untuk memberikan bantuan dan memulihkan kondisi di wilayah-wilayah terdampak bencana.












