intisari Berita
- Cold Moon adalah purnama Desember 2025 yang bersamaan dengan Supermoon, membuat tarikan gravitasi bulan lebih kuat dan menyebabkan pasang laut ekstrem. Hal ini berpotensi menimbulkan banjir rob di lebih dari 20 wilayah pesisir Indonesia pada 3-10 Desember 2025.
- Potensi bahaya diperparah oleh kenaikan permukaan laut, land subsidence, kerusakan mangrove, dan angin kencang. Dampaknya meliputi kerusakan infrastruktur, gangguan ekonomi, ancaman kesehatan, dan pengungsian.
- Untuk mengurangi risiko, diperlukan peringatan dini, pembangunan infrastruktur penahan air, perlindungan mangrove, dan sosialisasi kepada masyarakat.
Jakarta, 4; Desember 2025-Cold Moon adalah purnama terakhir dalam satu tahun, yang biasanya muncul pada bulan Desember. Nama ini berasal dari suku Mohawk di Amerika Serikat, yang mengaitkannya dengan datangnya musim dingin menjelang titik balik matahari musim dingin di belahan bumi utara.
Pada tahun 2025, Cold Moon terjadi pada 4 Desember dan bersamaan dengan Supermoon ketiga dan terakhir tahun itu, yaitu ketika bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi (perigee) pada saat purnama.
Penyebab Potensi Banjir Rob Akibat Cold Moon
- Gravitasi Bulan dan Matahari: Ketika bulan berada pada fase purnama dan perigee secara bersamaan, tarikan gravitasi bulan terhadap air laut bumi menjadi lebih kuat. Hal ini menyebabkan pasang laut mencapai ketinggian maksimum, yang berpotensi meluap ke daratan dan menyebabkan banjir rob, terutama di wilayah pesisir dengan ketinggian rendah.
- Faktor Pendukung Lain: Selain fenomena astronomi, potensi banjir rob juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim, penurunan permukaan tanah (land subsidence) akibat eksploitasi air tanah, kerusakan ekosistem pesisir seperti mangrove yang berfungsi sebagai pelindung alami, dan angin kencang yang mendorong air laut ke daratan.
Wilayah yang Berpotensi Terdampak
Menurut peringatan BMKG, lebih dari 20 wilayah pesisir Indonesia berpotensi mengalami banjir rob selama periode 3 hingga 10 Desember 2025, dengan waktu kejadian yang berbeda-beda. Beberapa wilayah yang masuk daftar peringatan antara lain:
- Pesisir Aceh (5-10 Desember)
- Sumatera Utara: Medan Belawan, Labuhan, Marelan (3-9 Desember)
- Kepulauan Mentawai (3-7 Desember)
- Jakarta Utara: Kamal Muara, Kapuk Muara, Pluit, Ancol, Muara Angke (3-10 dan 16-24 Desember)
- Pesisir Subang, Indramayu, Cirebon, Jawa Tengah, dan Jawa Timur
- Lampung, Banten, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.
Dampak Banjir Rob
- Kerusakan Infrastruktur: Banjir rob dapat merendam jalan raya, jembatan, saluran drainase, dan bangunan-bangunan di wilayah pesisir, menyebabkan kerusakan dan gangguan layanan dasar.
- Gangguan Aktivitas Ekonomi: Kegiatan pelabuhan, usaha perikanan, tambak garam, dan pariwisata dapat terganggu akibat banjir rob, yang berdampak pada pendapatan masyarakat dan perekonomian daerah.
- Ancaman Kesehatan: Genangan air banjir dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri dan penyakit menular, serta menyebabkan kerusakan pada sanitasi dan air minum.
- Pengungsian Masyarakat: Masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak mungkin harus mengungsi sementara ke tempat yang aman, yang menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan kehidupan sehari-hari.
Langkah Pencegahan dan Mitigasi
- Peringatan Dini: BMKG dan instansi terkait harus memberikan peringatan dini yang jelas dan tepat kepada masyarakat di wilayah pesisir tentang potensi banjir rob, termasuk waktu dan lokasi yang berpotensi terdampak.
- Mitigasi Struktural: Membangun infrastruktur pengendali air laut seperti dinding penahan air, tanggul pantai, dan sistem polder untuk mencegah air laut masuk ke daratan. Selain itu, juga perlu memperkuat dan memelihara saluran drainase untuk memastikan aliran air lancar.
- Mitigasi Non-Struktural: Melakukan sosialisasi dan pendidikan kepada masyarakat tentang bahaya banjir rob dan cara mengantisipasinya, serta menyusun rencana evakuasi yang jelas dan teruji. Juga perlu melindungi dan memulihkan ekosistem pesisir seperti mangrove yang berfungsi sebagai pelindung alami terhadap gelombang laut.
- Pengawasan dan Pemantauan: Terus melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap kondisi cuaca, pasang surut air laut, dan tingkat genangan air di wilayah pesisir untuk mengambil tindakan cepat jika terjadi banjir rob.
Perlu diperhatikan bahwa potensi banjir rob akibat Cold Moon adalah fenomena alam yang tidak dapat dihindari sepenuhnya, tetapi dengan langkah-langkah pencegahan dan mitigasi yang tepat, dampaknya dapat dikurangi secara signifikan. Masyarakat di wilayah pesisir diharapkan tetap waspada dan mengikuti perintah serta anjuran dari instansi terkait untuk memastikan keselamatan diri dan lingkungan.












