Manggar, Belitung Timur – Rabu, 24 Juni 2026
Suasana sepi dan lengang terlihat menyelimuti Pasar Lipat Kajang yang berada di Desa Baru, Kecamatan Manggar, Belitung Timur. Berbeda dengan hari-hari biasa yang biasanya ramai dikunjungi pembeli, saat ini para pedagang justru terlihat duduk termenung menanti kedatangan konsumen. Pasar yang menjadi pusat perdagangan komoditas harian ini tengah mengalami kelesuan yang cukup parah dalam sebulan terakhir, terutama dua pekan terakhir.
Kondisi Pasar dan Daya Beli Masyarakat
Kelesuan pasar ini terlihat jelas dari perubahan pola belanja masyarakat. Daya beli masyarakat dilaporkan menurun drastis: konsumen yang biasanya membeli kebutuhan sayuran dalam satuan kilogram, kini hanya mampu membeli dalam jumlah kecil atau satuan ons. Akibatnya, perputaran barang menjadi sangat lambat.
Menurut keterangan Panji (34), salah satu pemasok sayuran di pasar tersebut, kondisi ini terasa sangat membebani. “Pasar terasa mencekik belakangan ini. Sudah sebulan terasa berat, dan dua pekan terakhir makin parah,” ujarnya.
Dampak Berantai bagi Pedagang dan Petani
Kondisi ini menimbulkan efek domino yang merugikan seluruh rantai pasokan:
- Pedagang terpaksa mengurangi jumlah stok barang secara signifikan, misalnya dari semula 10 kg menjadi hanya 5 kg, atau dari 4 kg menjadi 3 kg per jenis komoditas.
- Pasokan hasil panen dari petani tetap mengalir masuk ke pasar, namun tidak terserap habis sehingga banyak sayuran yang membusuk dan akhirnya harus dibuang.
- Modal kerja petani dan pedagang pun tersendat, karena barang tidak laku terjual sementara biaya produksi dan operasional tetap harus dikeluarkan.
Penurunan Harga Tidak Mampu Menarik Pembeli
Upaya menekan harga jual pun tidak membuahkan hasil. Harga komoditas utama seperti cabai dan berbagai jenis sayuran telah diturunkan hingga mencapai 50 persen dari harga normal. Meskipun dijual dengan harga sangat murah, minat beli masyarakat tetap rendah.
Alur perdagangan yang tertekan juga terlihat jelas: barang dari petani sudah dibeli dengan harga murah, lalu dijual kembali di pasar dengan harga yang lebih rendah lagi, namun persediaan tetap tidak habis terjual.
Penyebab utama kelesuan pasar ini dinilai berasal dari anjloknya daya beli masyarakat secara umum. Konsekuensinya sangat terasa bagi pelaku usaha kecil: petani lokal mengalami kerugian besar karena hasil panen yang segar harus terbuang percuma, sementara pedagang menghadapi risiko kehilangan modal dan kesulitan mempertahankan usahanya. Kondisi ini dianggap tidak wajar dan terus menunjukkan tren yang semakin memburuk sejak dua pekan terakhir.












