
HARGA NAIK TURUN, PERUT TETAP SAMA
Di Pasar Lipat Kajang, Manggar,
angka di papan tulis berubah tiap pekan.
Triwulan kedua 2026,
harga naik turun seperti ombak.
Tapi dompet kami… tetap di dasar.
April datang,
daging sapi tetelan melonjak 30 persen.
Mei menyusul,
tempe naik 25 persen.
Cabai merah meradang 20 persen.
Pedagang bilang: “Pasar yang nentuin Bu.”
Ibu di rumah diam.
Menu diganti. Lauk dikurangi.
Juni tiba, kabar baik katanya.
Cabai dan bawang merah turun 20 sampai 40 persen.
“Berkat musim panen,” ucap Disperindag.
Tapi bawang putih Honan masih mahal.
Ikan tongkol tetap melambung.
Tomat juga ikut naik.
Jadi yang turun cuma dua,
yang naik masih banyak.
Kepala Bidang Perdagangan bilang:
“Stok pangan aman. Daya beli masyarakat yang melemah. Ekonomi belum pulih. Bukan karena barang langka.”
Lalu himbauannya:
“Berbelanja sesuai kebutuhan. Manfaatkan alternatif.”
Alternatif?
Daging ganti tempe.
Tempe naik, ganti tahu.
Tahu naik, ganti garam.
Garam naik juga.
Akhirnya alternatifnya: puasa.
Ini bukan soal langka.
Ini soal mampu atau tidak.
Harga boleh fluktuatif,
tapi lapar kami… statis.
Di Beltim,
yang naik bukan cuma harga.
Yang naik juga keluh.
Yang turun bukan cuma cabai.
Yang turun juga harapan.
Jakarta 12 Juli 2026
Akhlanudin












