LIMA BOCAH DI SUDUT LAPANGAN
Di sudut lapangan bola tanah liat,
sore memerah di atas Manggar dan Gantung.
Lima bocah berkumpul.
Keringat belum kering, mimpi sudah tinggi.
Yang pertama berseru:
“Aku ingin menjadi Yusril! Orang Manggar yang ahli hukum. Bicara yang didengar negeri. Bela yang tertindas dengan pasal dan dalil.”
Yang kedua mengepalkan tangan:
“Aku ingin seperti Ahok! Orang Gantung yang jadi politikus. Kerja, kerja, kerja. Bongkar yang bengkok, bangun yang runtuh.”
Yang ketiga memejamkan mata:
“Aku ingin jadi Andrea Hirata. Novelis Laskar Pelangi orang Gantung. Tuliskan desa ini ke seluruh dunia. Biar yang baca tahu, kami pernah punya cahaya.”
Yang keempat bersenandung lirih:
“Aku ingin seperti Shabrina. Penyanyi bersuara merdu orang Manggar. Suara kami menembus panggung. Biar nama kampung ikut bergetar.”
Yang kelima berdiri paling tegak:
“Aku ingin seperti Bang Furqon. Paskibra Nasional orang Manggar. Membawa bendera setinggi-tingginya. Membuat merah putih berkibar dari desa kami.”
Mereka tertawa.
Lalu diam.
Karena di desa kami…
selalu lahir orang hebat.
Dari tanah yang sama.
Dari sekolah yang sama.
Dari lapangan yang sama ini.
Namun kenapa desa ini tak pernah maju?
Jalan masih berlubang.
Lapangan masih becek.
Spanduk janji masih tergantung,
tapi warung masih sepi.
Saat ini rakyat menjerit:
“Daya Beli Melemah.”
Harga naik, gaji tetap.
Anak hebat lahir tiap tahun,
tapi pulang membawa ijazah
tanpa ada kerja yang menunggu.
Lima bocah itu menatap langit.
Mimpi mereka besar seperti tiang gawang.
Tapi kenyataan mengganjal
seperti batu di tengah lapangan.
Desa kami melahirkan juara.
Tapi lupa memberi panggung.
Desa kami melahirkan nama.
Tapi lupa membangun rumah.
Wahai para pemimpin,
jangan hanya bangga dengan anak yang pergi.
Bangunlah desa agar anaknya
tak perlu pergi untuk menjadi hebat.
Jakarta 13 Juli 2026
Akhlanudin












