
MEDIA DAULAT RAKYAT TANJUNGPANDAN, 22 Juli 2026 — UPT Museum Kabupaten Belitung menggelar program edutainment bertajuk “Gambus Belitung: Menjaga Warisan, Menghidupkan Peradaban” selama dua hari, 22–23 Juli 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan sejarah dan nilai budaya gambus kepada generasi muda melalui pendekatan edukatif dan interaktif.
Acara dibuka oleh perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Kepulauan Bangka Belitung, Rofiqoh Naimatun, S.Si. Ia menekankan bahwa pelestarian tidak cukup hanya pada benda koleksi.
“Sesuatu yang lebih penting dari benda adalah budaya yang terkandung dalam koleksi museum. Melalui koleksi benda kita mengetahui sejarah masa lampau,” ujar Rofiqoh.
Ia juga menyatakan kesiapan Balai untuk berkolaborasi memajukan kebudayaan di Kabupaten Belitung.
Narasumber Ajak Kenali Sejarah hingga Praktik Gambus
Kegiatan menghadirkan narasumber lokal: Muchlis selaku Ketua KPSB Peta Belitung, serta praktisi gambus Rendy Dwie Okatrinada, S.Sn dan Usni Mariosha. Materi yang disampaikan mencakup sejarah gambus, perkembangan gaya musik, hingga teknik permainan.
Muchlis menyoroti pentingnya regenerasi.
“Kita perlu meneruskan tradisi ini agar identitas kultural Belitung tetap hidup dan dapat dinikmati generasi mendatang,” katanya.
Rendy menjelaskan makna gambus yang lebih dari sekadar alat musik.
“Gambus bukan hanya alat musik; ia merekam perjalanan komunitas kita, dari tarian hingga upacara tradisi.”
Sementara Usni Mariosha menyorot sisi adaptasi modern agar gambus tetap relevan.
“Teknik permainan dan adaptasi modern membuat gambus tetap bisa diterima anak muda,” ujarnya.
40 Siswa Antusias Ikuti Praktik Langsung
Program ini menyasar siswa SD. Hari pertama diikuti 40 siswa SD Negeri 1 Tanjungpandan, dan hari kedua 40 siswa SD Regina Pacis.
Selama sesi, peserta aktif bertanya, mencoba memainkan gambus sederhana, dan mengikuti demonstrasi praktik. Seorang guru pendamping menuturkan dampaknya langsung terasa.
“Anak-anak pulang dengan semangat baru — banyak yang ingin belajar gambus di sekolah.”
Akan Dijadikan Program Berkala
Kepala UPT Museum Revzan Maynovri, S.Sn berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut dan diperluas.
“Edutainment ini bagian dari strategi kami untuk menghidupkan kembali tradisi lokal melalui pendidikan praktis. Kami berharap kolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan Balai Pelestarian Kebudayaan dapat memperkuat pelestarian warisan budaya Belitung,” ujarnya.
Ke depan, UPT Museum berencana menjadikan program ini agenda berkala serta membuka kerja sama dengan lebih banyak sekolah dan komunitas seniman lokal. Pendekatan praktik langsung dan dialog dengan narasumber dinilai efektif menumbuhkan apresiasi budaya sejak usia dini.












