
Anak Laut dan Timah
Dengarlah wahai angin dari ujung Manggar ke Lenggang,
dari pantai Burung Mandi sampai ke tanah Gantung yang retak.
Aku akan menyanyikan kisah negeri yang dadanya digali,
negeri yang urat nadinya timah, dan air matanya laut.
Dulu, di zaman kakek buyut,
Belitong tidur di pangkuan Sang Rumbia.
Pasir putihnya selimut, karangnya mahkota,
dan di perut bumi, tersembunyi logam hitam —
darah bumi yang disebut orang: timah.
Lalu datanglah tangan-tangan besar,
membawa sekop, mesin, dan janji.
“Kami gali, kalian sejahtera,” katanya.
Anak-anak laut pun turun ke lubang.
Punggung dibungkukkan, napas dihisap debu,
demi sekilogram timah, demi sepiring nasi.
Tahun berganti, harga naik, harga runtuh.
Hari ini, Jumat, tujuh Agustus dua ribu dua puluh enam,
ribuan suara berkumpul di depan gerbang besi.
“Mana PT Timah!” teriak mereka,
“Ga ada yang beli timah kami!”
Teriakan itu lebih keras dari ombak,
lebih pahit dari kopi saring subuh.
Teguh, anak tambang berumur tiga puluh musim,
berdiri di barisan paling depan.
Di tangannya tidak ada senjata,
hanya sekop yang sudah tumpul dan harapan yang retak.
“Ini urusan makan,” katanya.
Satu kalimat. Tapi menggetarkan seng dan kaca.
Api menyala. Bukan api kemarahan semata,
tapi api lapar yang sudah lama dipendam.
Gudang terbakar, asap hitam naik ke langit,
seperti doa yang salah arah.
Polisi berjaga, laut diam,
dan timah tetap terpendam, menunggu siapa yang berhak.
Wahai Belitong, tanah para leluhur,
berapa lama lagi kau harus memilih:
antara menjaga laut atau mengorbankan isi perut?
antara harga di papan bursa atau harga di meja makan?
Dengarkan!
Bukan timah yang berteriak,
bukan mesin yang menangis.
Yang berteriak adalah anak-anak,
yang menangis adalah ibu-ibu di dapur
ketika beras tinggal segenggam.
Epik ini belum selesai.
Selama masih ada sekop yang diangkat,
selama masih ada ombak yang pulang,
selama masih ada nama “timah” disebut dengan getir,
maka kisah ini akan terus ditulis
oleh keringat, oleh debu, oleh air mata
di tanah Belitong yang tidak pernah tidur.
7 Agustus 2026
Akhlanudin
Diantara gemuruh suara penambang di Gantung Belitung Timur












