Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • Nirok Nanggok Aik Mudor: Tradisi Tangkap Ikan Kolektif Belitung yang Bertahan Puluhan Tahun
InShot 20260826

Nirok Nanggok Aik Mudor: Tradisi Tangkap Ikan Kolektif Belitung yang Bertahan Puluhan Tahun

Media Daulat Rakyat Belitung, Rabu 26 Agustus 2026 – Menjelang akhir Agustus, masyarakat Desa Kembiri kembali menggelar Kegiatan Adat Nirok Nanggok Aik Mudor. Tradisi ini akan berlangsung 29–31 Agustus 2026 di Sungai Aik Mudor dengan konsep “camping beramai” di tepi hutan dan sungai.

Asal-Usul: Warisan Leluhur Penjaga Sungai
Menurut penuturan para tetua adat Desa Kembiri, tradisi Nirok Nanggok sudah ada sejak lebih dari 70 tahun lalu. Nama “Nirok” berarti menebar jaring, sedangkan “Nanggok” berarti menahan atau membendung aliran air dengan bambu dan daun nipah.

Dahulu, Nirok Nanggok lahir dari kebutuhan hidup masyarakat pesisir dan pedalaman Belitung. Saat musim kemarau panjang dan air sungai mulai “aik mudor” atau airnya surut dan keruh, ikan-ikan berkumpul di lubuk.

Tetua adat dulu menetapkan aturan: kegiatan hanya dilakukan 1-2 kali setahun saat musim tertentu. Tujuannya bukan menghabiskan ikan, tapi menjaga keseimbangan. Setelah selesai nirok, sebagian hasil disisihkan untuk anak yatim, janda, dan masjid. Sisanya dibagi rata sesuai kerja gotong royong.

“Jaman dulu nirok itu pakai pantang. Ndak boleh ribut, ndak boleh buang sampah ke sungai, ndak boleh pakai racun. Karena kami percaya, kalau sungai dijaga, sungai juga jaga kami,” ujar Pak Haji Salim, 78, salah satu tetua adat Kembiri.

Pesan itu masih diwariskan hingga kini: “Jangan ceruco ye same – same kite jage tempat nirok nanggok kite” yang artinya jangan merusak, mari bersama-sama menjaga tempat tradisi kita.

Makna dan Nilai Budaya
Seiring waktu, Nirok Nanggok berkembang dari sekadar mencari ikan menjadi 3 nilai utama:

  1. Pelestarian budaya: Menjaga cara leluhur menangkap ikan tanpa merusak ekosistem. Anak muda diajarkan membuat “pengambang” dari bambu dan cara membaca arus sungai.
  2. Kesadaran lingkungan: Ada aturan adat yang melarang buang sampah, menebang pohon di sempadan sungai, dan menggunakan setrum atau racun.
  3. Kebersamaan komunitas: Semua warga, dari anak-anak hingga orang tua, turun ke sungai. Hasil tangkapan dibagi secara adil. Ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi dan kampung.

Agenda Nirok Nanggok Aik Mudor 2026
Tahun ini panitia mengemas tradisi menjadi ruang edukasi dan wisata budaya. Rangkaian acara 29–31 Agustus di Sungai Aik Mudor:

  1. Nirok bersama: Tangkap ikan kolektif dengan jaring dan bambu dipandu tetua adat
  2. Camping beramai: Warga dan pengunjung berkemah di tepi sungai
  3. Diskusi budaya: Bedah sejarah Nirok Nanggok bersama pemangku adat
  4. Pertunjukan seni lokal: Gambus, berbalas pantun, dan kuliner khas Belitung
  5. Aksi bersih sungai: Mengajak peserta memungut sampah di sepanjang aliran

Ketua Panitia menyebut, kegiatan ini juga diharapkan menggerakkan ekonomi warga. Kuliner, kerajinan, dan homestay masyarakat sekitar dipromosikan selama acara.

Dampak Sosial-Ekonomi
Bagi warga Kembiri, Nirok Nanggok bukan hanya tradisi. Warung kecil, penjual kemplang, lempah, dan pemandu wisata lokal mendapat pemasukan tambahan. Generasi muda juga punya ruang belajar sejarah langsung dari tetua.

Tradisi Nirok Nanggok Aik Mudor menunjukkan bagaimana masyarakat Belitung mampu menjaga keseimbangan antara warisan budaya dan kelestarian alam. Di tengah modernisasi, sungai tetap dijaga, kebersamaan tetap dirawat.

Artikel Terkait

Oplus

Rumah Warga di Pulau Bayan,…

Media Daulat Rakyat Belitung, 25 Agustus…

InShot 20260826

Mediasi Polsek Gantung: PT HPI…

Media Daulat Rakyat Gantung, Belitung Timur,…