
Di balik setiap sorakan kemenangan Indonesia dalam sejarah bulutangkis, ada jiwa-jiwa yang pernah berjuang tanpa pamrih. Salah satunya adalah Iie Sumirat—sosok yang tak hanya mengayunkan raket, tapi juga menggetarkan hati bangsa.
Iie bukan sekadar nama dalam buku rekor. Ia adalah simbol determinasi. Dalam gelaran Thomas Cup 1979, saat Indonesia keluar sebagai juara dunia, Iie adalah bagian dari nadi kemenangan itu.
Gerakannya lincah, fokusnya tak tergoyahkan, dan semangatnya menyala bahkan di tengah tekanan pertandingan.
Namun di balik sorotan lapangan, Iie adalah pembimbing. Ia memilih jalan panjang pembinaan setelah pensiun, membentuk generasi baru yang mengenal bulutangkis bukan sebagai prestise semata, melainkan sebagai disiplin jiwa.
Hari ini, saat kabar kepergiannya menyebar pelan di antara komunitas olahraga, kita tak sekadar berduka.
Kita merenung. Mengenang bahwa semangat seperti Iie tak pernah benar-benar hilang—ia bertransformasi menjadi semangat kolektif di setiap pelatnas, di setiap raket yang dipegang oleh anak muda, dan di setiap turnamen lokal yang digelar demi nama negeri.
“Iie Sumirat adalah legenda badminton Indonesia yang mewarnai kegemilangan prestasi Indonesia di era 70-an.” CNN Indonesia
“Kami sangat kehilangan sosok Iie Sumirat. Semoga segala amal ibadah beliau diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.” Ujar Kepala Dispora Kota Bandung
Dari ICU, tempat beliau menghabiskan detik-detik terakhirnya, hingga ruang kenangan yang kini kita bangun bersama, nama Iie tak akan pudar. Ia akan dikenang sebagai pejuang lapangan Bulu Tangkis dan pembaharu semangat olahraga bangsa.
Selamat jalan, Iie Sumirat.
Semangatmu kini hidup dalam setiap langkah generasi penerus yang berani bermimpi.












